Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Balita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Orangtua Tak Perlu Malu Punya Anak Autis

Memiliki anak berkebutuhan khusus atau anak autis memang menambah besar tanggung jawab orangtua, seperti memberikan perhatian yang khusus serta biaya yang juga ekstra. Orangtua tak perlu malu bila mempunyai anak autis.

Banyak orangtua yang merasa ketakutan anaknya akan terlahir autis. Bahkan banyak pula yang merasa malu dan akhirnya menelantarkan anaknya begitu saja atau bahkan ada yang dipasung.

Sebenarnya beberapa tanda autis bisa dideteksi mulai dari bayi lahir hingga anak berumur lima tahunan. Deteksi dini bisa mengurangi beban mental dan mempercepat penanganan anak autis.

"Autis itu bukan penyakit yang menular, tapi banyak orangtua yang malu kalau punya anak autis, hingga akhirnya dititipkan di panti, keluarga yang lain atau bahkan ada yang dipasung," jelas dr Suzy Yusnadewi, SpKJ (K), psikiater anak dari RSJ Grogol, dalam acara Aktivasi Pedulimu 'Untuk Kemandirian Autis Dhuafa' yang diadakan Rumah Autis dan Antam di Margo City, Depok, Sabtu (11/12/2010).

Menurut dr Suzy, stigma 'malu punya anak autis' itu ada dari masyarakat sendiri. Sebetulnya stigma anak autis sangat berbeda dengan gangguan jiwa yang lain.

Kebanyakan orangtua malu karena anak yang dilahirkannya tidak bisa berperan sama sekali. Apalagi dengan adanya autisme yang disertai retardasi (keterbelangkangan) mental yang kadang berperilaku mengganggu seperti ngiler, tantrum (teriak-teriak) atau marah.

"Orangtua tak perlu malu punya anak autis, justru anak autis itu juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, perlu juga diajak bertemu dengan orang banyak. Mereka juga harus bergaul," jelas dr Suzy yang juga berpraktik di di klinik Talenta Center.

Autisme memang tidak bisa disembuhkan, tetapi bila dapat dideteksi dini autisme bisa ditangani hingga individu tersebut bisa terinteraksi layaknya orang lain yang normal, walaupun masih ada tanda-tanda autismenya.

Menurut dr Suzy, bila diasuh dan ditanggani dengan baik, anak autis akan bisa berinteraksi layaknya orang normal, yang bersekolah, bekerja, mandiri dan bersosialisasi.

Yang menjadi masalah, menurut Dr Suzy, kebanyakan orangtua tidak mengetahui atau kadang menganggap remeh gejala-gejala awal autisme, sehingga kebanyakan terlambat menanganinya.

"Yang terpenting kenali anak Anda. Kenali perkembangannya mulai dari bayi. Bayi usia 0-1 tahun itu sudah bisa kok dikenali ciri-ciri autisnya. Dan semakin cepat diketahui maka semakin baik hasil penanganannya," lanjut Dr Suzy.

Dilansir dari Disabledworld Minggu (12/12/2010), berikut ini beberapa gejala autis yang bisa dideteksi mulai dari bayi hingga tahun kelima pertumbuhan anak:

Baru lahir
Sejak bayi, anak autis biasanya tidak bisa merasakan atau merespons kehadiran orangtuanya. Ia tidak akan tertarik untuk melakukan kontak mata dan cenderung tertarik dengan objek yang bergerak. Bayi autis juga lebih banyak diam dan tidak menangis selama berjam-jam.

Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang umumnya dicapai anak-anak dalam usia setahun antara lain berdiri dengan bantuan orangtua, merangkak, mengucapkan sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan, tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya.

Jika anak tidak dapat melakukan kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untuk waspada dan segera periksakan jika anak tak mencapai satu pun kemampuan umum diatas.

Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas jika anak tidak tertarik pada ibunya atau orang lain, jarang menatap atau tidak terjadi kontak mata, tidak menunjuk atau melihat pada objek yang diinginkan, tak dapat mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tangan atau mengayunkan tubuh ke depan-belakang, tidak suka bermain, sering berjalan berjinjit.

Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua, semua yang terjadi pada tahun sebelumnya di atas dengan tambahan terobsesi oleh suatu objek tertentu seperti mainan atau game, sangat tertarik dengan suatu rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau susunan benda terganggu, sensitif terhadap suara keras yang sebenarnya tidak mengganggu anak lainnya dan sensitif terhadap sentuhan orang lain seperti tak suka dipeluk.

Jika bayi memiliki salah satu atau beberapa gejala di atas, segera periksakan ke dokter spesialis untuk meyakinkan kekhawatiran orangtua dan meringankan beban mental sedini mungkin.


Merry Wahyuningsih - detikHealth
foto : fahmee76.blogspot.com (ilustrasi)

Jarak Kehamilan Kurang dari 1 Tahun Berisiko Anak Autis

Columbia, Sebaiknya rencanakan waktu kehamilan Anda dengan baik-baik, karena peneliti menemukan bahwa wanita yang hamil lagi dalam waktu kurang dari 1 tahun setelah melahirkan dapat meningkatkan risiko bayinya mengalami autisme.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dikandung oleh ibu yang baru saja melahirkan dengan jarak kurang dari 1 tahun bisa tiga kali lebih mungkin mengalami gangguan perkembangan.

Menurut peneliti, hal ini karena tubuh wanita membutuhkan waktu untuk pulih dari kehamilan. Selain itu, janin yang dikandung terlalu cepat setelah melahirkan lebih mungkin untuk kekurangan nutrisi penting.

Temuan yang berdasarkan studi lebih dari 600 ribu keluarga di California ini menambahkan bukti bahwa kehamilan yang berjarak dekat bisa berbahaya, baik bagi ibu dan juga bayi yang dikandungnya.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa wanita yang hamil dengan jarak dekat berisiko melahirkan prematur dan berat badan bayi rendah, yang bisa lebih berisiko terhadap perkembangan bayi jangka panjang.

"Risiko autisme akan semakin meningkat pada anak-anak yang lahir dengan interval kehamilan yang pendek. Risiko tertinggi terjadi pada jarak kehamilan kurang dari 1 tahun," jelas Dr Keely Cheslack-Postava, penulis studi dari Columbia University, New York, dilansir Dailymail, Senin (10/1/2011).

Dr Cheslack-Postava menyebutkan, mengandung anak kurang dari 1 tahun setelah kelahiran memiliki risiko 3,4 kali lebih tinggi mengalami autisme. Sedangkan bayi dikandung 12-23 bulan setelah kelahiran 1,9 kali lebih tinggi, dan jarak 2-3 tahun 1,2 kali lebih tinggi.

Selama ini penyebab pasti autisme masih menjadi misteri, tetapi diperkirakan disebabkan oleh kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan, terutama saat bayi masih dalam kandungan.

Peneliti juga menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara jarak kehamilan yang terlalu dekat kekurangan nutrisi pada ibu hamil, terutama folat yang dibutuhkan selama kehamilan. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab yang menghubungkan antara jarak kehamilan dekat dan autisme.

"Wanita telah disarankan untuk memberi waktu yang cukup untuk mengatur jarak kehamilan, setidaknya lebih dari satu tahun setelah kehamilan sebelumnya," jelas Dr Patrick O'Brien, konsultan dan juru bicara untuk Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists.

Merry Wahyuningsih - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Jumat, 07 Januari 2011

Mengurangi Stres Dalam Merawat Bayi

Mengurus bayi bukanlah hal yang mudah, karenanya tak heran jika banyak ibu yang merasa stres. Untuk itu ketahui cara mengatasi stres yang muncul saat merawat si kecil.

Kelahiran seorang bayi adalah suatu tantangan yang mencakup perubahan hormon, fisik, emosional, psikologis dan senyawa kimia tertentu di tubuh. Tak heran jika seorang ibu bisa merasa lelah, bersemangat, frustasi, khawatir dan gembira dalam waktu yang sama, sehingga bisa memicu stres.

Seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (7/1/2011) penting bagi ibu yang baru memiliki bayi untuk menjaga dirinya sendiri, khususnya dalam bulan-bulan awal kehidupan bayi. Berikut ini tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres, yaitu:

Usahakan untuk tetap mendapat tidur
Usahakan untuk tidur sebanyak dan sesering mungkin, karena kurang tidur bisa membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Jika bayi sulit tidur di malam hari, maka istirahatlah ketika bayi tidur di siang hari.

Jika tidak juga bisa tertidur, memejamkan mata dan mengambil napas panjang untuk bersantai bisa sangat membantu. Karena tidur atau menutup mata adalah cara alami untuk memulihkan dan menjaga sistem tubuh agar tetap prima.

Mengonsumsi makanan yang bernutrisi
Usahakan untuk menghindari junk food, karena bisa menyebabkan perubahan gula darah yang cepat sehingga meningkatkan kecemasan. Selain itu hindari alkohol dan kafein yang bisa memicu kecemasan dan gangguan tidur.

Olahraga secara teratur
Lakukan olahraga beberapa hari dalam seminggu seperti berjalan kaki, bersepeda atau aerobik selama 20-30 menit. Jika sangat sulit melakukannya, cobalah untuk keluar rumah sambil membawa bayi ke taman dan berjalan-jalan atau meluruskan kaki. Berjalan-jalan di udara segar bisa membantu mengurangi stres.

Luangkan waktu untuk diri sendiri
Meluangkan sedikit waktu untuk diri sendiri bukanlah hal yang egois, karena ini penting untuk kesejahteraan emosional. Ibu bisa berendam di air hangat, pergi selama satu jam untuk mencari buku favorit, menonton film kesukaan, melakukan pemijatan atau merawat kuku dan tubuhnya. Kondisi ini akan membantu mengurangi tekanan dan stres di dalam tubuh.

Meluangkan waktu dengan pasangan
Setelah memiliki anak, kadang semua fokus tertuju pada si kecil dan merasa kehilangan saat-saat bersama pasangan. Mintalah bantuan baby sitter atau orangtua untuk menjaga si kecil agar bisa berjalan-jalan untuk makan malam, menonton film atau menghabiskan waktu bersama pasangan. Kondisi ini penting untuk menjaga kesehatan hubungan sehingga mengurangi pemicu stres.

Mintalah bantuan orang lain
Saat merawat bayi ada kalanya ibu merasa kewalahan dan tidak bisa melakukan kegiatan lain selain merawat si kecil. Untuk itu tidak ada salahnya mencari bantuan orang lain seperti orangtua, kerabat, teman atau orang lain yang memang bisa dipercaya. Dengan adanya bantuan orang lain, maka ibu bisa istirahat sejenak atau melakukan tugas lain.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Jumat, 31 Desember 2010

Kenali Gejala Depresi Pada Anak

California, Depresi kerap terjadi pada orang dewasa yang mengalami tekanan atau beban pikiran berlebih. Tapi bukan berarti depresi tak bisa terjadi pada anak-anak. Apa saja gejala depresi pada anak?

"Depresi bukanlah penyakit normal yang terjadi pada anak-anak, tetapi memang bisa saja terjadi," ujar Robert L. Hendren, D.O., mantan presiden American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), seperti dilansir dari CNN, Rabu (7/7/2010).

AACAP memperkirakan depresi terjadi pada sekitar 1 dari 20 anak-anak dan remaja. Paling tidak, dalam sebuah kelas di sekolah ada sekitar 1 atau 2 anak yang mengalami depresi.

"Depresi klinis seperti awan gelap yang berkumpul di atas kepala anak, dan sering menimbulkan perasaan yang murung, lekas marah, dan kehilangan minat," jelas Dr Hendren, yang juga direktur psikiatri anak dan remaja di University of California, San Francisco.

Sebuah studi menunjukkan bahwa 25 persen dari anak-anak yang memiliki orangtua yang menderita depresi, juga akan mengalami depresi. Jika kedua orangtuanya (ayah dan ibu) mengalami depresi, maka risiko akan meningkat menjadi sekitar 75 persen.

Ilmuwan tidak benar-benar percaya dengan alasan ini, tapi salah satu teori berpendapat bahwa anak-anak memiliki kerentanan genetik, yang kemudian diperburuk oleh stres lingkungan.

"Sekitar 40 persen anak-anak dan remaja dengan depresi juga memiliki gangguan kecemasan seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD), dan sekitar 1 dari 4 memiliki gangguan hiperaktif (ADHD)," ujar Dr Fassler, profesor psikiatri klinis di Universitas Vermont.

Menurut Fassler, gejala-gejala depresi pada anak adalah sebagai berikut:
  1. Merasa bosan, tidak berenergi dan mengalami masalah konsentrasi
  2. Kehilangan minat dan ketertarikan pada kegiatan yang biasa disukainya
  3. Mudah tersinggung dan cenderung untuk mengamuk
  4. Mengalami masalah di sekolah atau sering bolos
  5. Sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau sakit lainnya
  6. Kurang nafsu makan karena merasa semua makanan tidak enak, atau makan berlebihan karena mencoba menenangkan diri
  7. Mengalami gangguan tidur atau tidur terlalu banyak, yang terjadi setiap hari
  8. Mengalami kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain
  9. Tertarik dengan kematian yang tidak biasa
Sumber : Merry Wahyuningsih - detikHealth
foto : Ilustrasi (Foto: CNN)

Bayi 6-12 Bulan Jangan Diberi Garam, Gula dan Buah Manis

Setelah si kecil berusia 6 bulan, maka asupan nutrisinya tidak hanya dari ASI tapi juga ditambah dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Tapi sebaikya ibu tidak memberikan gula, garam dan buah yang terlalu manis pada bayi usia 6 bulan sampai 1 tahun.

Makanan yang sehat penting untuk pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak, karena itu asupan makanan ini harus sesuai dalam hal kualitas dan kuantitasnya.

Untuk memenuhi nutrisi anak, maka sebaiknya ibu menggunakan bahan yang segar sehingga anak mendapatkan vitamin dan mineral yang optimal. Jangan anggap enteng bayi usia 6-12 bulan karena itu adalah masa kritis yang menentukan kebiasaan makan seterusnya hingga dewasa.

"Usia 6-12 tahun adalah masa kritis dalam menentukan pola makan anak nantinya. Karena itu sebaiknya orangtua memberikan makan pada anaknya secara bervariasi, tanpa paksaan, tidak terlalu manis dan jangan ditambahkan garam," ujar Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK dalam acara 'Temu Media Philips Avent' dengan tema berbagai tips menjadi orangtua sukses dalam kesibukan sehari-hari di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (7/7/2010).

Dr Fiastuti menambahkan tidak ada satu makanan pun yang sempurna, dalam arti mencukupi semua kebutuhan nutrisi anak. Sehingga jika anak ingin mendapatkan asupan nutrisi yang tepat, makanan yang diberikan juga harus bervariasi.

Kenapa bayi jangan diberi garam, gula dan buah yang terlalu manis?

"Jika bayi sudah diberi garam dan gula dalam makanannya, maka bayi akan terbiasa mendapatkan rasa yang lebih enak dibandingkan dengan makanan murni lainnya. Efeknya, bayi tidak mau makan kalau makanan tersebut tidak manis atau gurih," ungkap dokter kelahiran Jogjakarta 56 tahun silam.

Maka itu bayi berusia di bawah 1 tahun, sebaiknya tidak diberikan buah yang terlalu manis, seperti sawo atau nangka karena rasa manisnya yang terlalu tinggi. Tapi berikan buah apel, pir, pepaya atau buah lain yang tidak terlalu manis.

Karena jika anak sudah biasa diberikan makanan manis, nantinya anak hanya mau makan makanan yang manis. Sehingga akan susah menyuruhnya mengonsumsi sayur karena sayuran cenderung memiliki rasa hambar.

"Ada yang bilang sebaiknya memberi sayuran dulu baru buah, tapi kalau menurut saya dikombinasikan antara buah dan sayur juga bisa," ujar dokter dari 3 orang anak ini.

Anak usia di bawah 1 tahun adalah masa untuk mengenal berbagai macam rasa dari buah, sayur dan makanan lainnya. Sehingga jika dari kecil anak sudah diberi makanan yang gurih dan manis, maka nantinya anak punya kebiasaan memilih-milih makanan yang dikonsumsinya, rasa manis dan gurihlah yang jadi pilihan.

"Kunci untuk menentukan pola makan anak adalah pada usia 6-12 bulan. Kalau sejak usia tersebut sudah diberi Nugget, makanan yang gurih dan kaya lemak, maka sudah pasti anak tersebut tidak akan suka dengan sayur dan buah," imbuhnya.

Selain garam dan gula, bayi di bawah usia 1 tahun juga sebaiknya tidak diberikan madu, karena berisiko mengandung bakteri Clostridium yang bisa menyebabkan botulisme. Makanan lain yang dihindari adalah kacang-kacangan dan juga susu sapi, hal ini karena bisa memicu timbulnya alergi.

Usahakan untuk menunggu hasilnya hingga 4 hari ketika memperkenalkan makanan baru pada bayi. Hal ini untuk memudahkan orangtua melihat apakah bayi memiliki reaksi alergi tertentu terhadap makanan tersebut atau tidak.

Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, makanan pendamping ASI ini juga memiliki tujuan merangsang keterampilan makan anak terutama keterampilan motorik oral serta merangsang rasa percaya diri anak karena tidak mungkin anak menyusu terus sampai besar.

Tapi sekali lagi berikan makanan yang bervariasi seperti buah-buahan yang tidak terlalu manis, sayuran, dan masakan yang tidak terlalu banyak garam.
 
Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth(Foto: babychums)

Waktu yang Tepat si Kecil Pegang Makanan Sendiri

Pada usia tertentu bayi sudah diperbolehkan untuk mengonsumsi makanan padat, salah satunya adalah makanan yang bisa dipegang sendiri oleh si kecil atau disebut dengan finger food. Kapan bayi boleh diberikan finger food?

Saat awal bayi diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) maka makanan yang diberikan adalah bubur susu yang nantinya secara bertahap ke bubur kasar hingga menjadi nasi. Pada usia tertentu saat bayi sudah bisa memegang sesuatu, maka mulai diberikan finger food.

Dikutip dari Kidshealth, Selasa (24/8/2010) saat bayi berusia 9 bulan, si kecil sudah bisa memegang sesuatu sehingga ia mulai bisa makan dan memegang makanannya sendiri. Saat itulah bayi sudah bisa diberikan finger food seperti potongan buah.

Pada usia tersebut bayi sudah mengembangkan keterampilan motorik halusnya, sehingga memiliki kemampuan untuk membuat gerakan kecil yang tepat seperti memegang potongan kecil makanan dan makan sendiri. Bayi akan memegang makanan antara jari telunjuk dan juga jempolnya dengan cara menjepit. Cara makan ini juga sekaligus mengembangkan kemampuan motorik serta kemandirian bagi bayi.

Orangtua bisa memotong makanan menjadi kecil-kecil yang cukup untuk dipegang oleh bayi. Ukuran dari makanan ini akan bervariasi tergantung pada tekstur makanan, misalnya potongan ayam harus lebih kecil dari sepotong semangka. Karena semangka akan lebih mudah dihancurkan oleh gusi dibandingkan dengan ayam.

Bayi biasanya akan semangat untuk mencoba hal-hal baru, tapi jika si kecil tidak mau makan sebaiknya jangan langsung menyerah atau memaksa karena anak-anak secara alamiah lambat menerima rasa dan teksur baru. Sehingga dibutuhkan waktu agar bayi bisa menerima dan menyukai makanan baru.

Proses pengenalan finger food bisa menjadi hal yang menyenangkan dan bermanfaat bagi bayi. Untuk menghindari bayi tersedak makanan yang dikonsumsinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua dalam memberikan finger food, seperti jangan memberikan potongan sayuran mentah atau buah yang keras serta menghindari pemberian anggur utuh atau tomat ceri.

Namun orangtua sebaiknya tidak terlalu terburu-buru ingin memberikan segala jenis makanan, karena orangtua juga harus mengetahui makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh bayi sesuai dengan usianya, hal ini untuk mencegah terjadinya gangguan pada sistem pencernaannya.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

9 Kepribadian Balita

Mengasuh si kecil tidak akan pernah ada bosannya karena bayi atau balita sering menunjukkan beragam sifatnya. Perasaannya gampang berubah-ubah mulai dari pemalu, serius, cerita atau ingin tahu. Apa saja kepribadian balita?

Meski masih kecil menurut konsultan anak Su Laurent dalam bukunya 'Your Baby Month by Month' yang diterbitkan Esensi seperti dikutip Jumat (24/9/2010), balita sudah memiliki kepribadian.

Ia menyarankan sebaiknya orangtua tidak memberikan julukan seperti anak cerewet atau mengkelkan karena perilaku anak bisa berubah-ubah. Julukan yang melekat bisa mempengaruhi cara anak melihat dirinya tumbuh.

Berikut 9 kepribadian balita yang bisa berubah-ubah dalam satu yang menunjukkan perubahan emosinya:

1. Pemalu
Balita sangat tergantung pada pengasuh utamanya sehingga sering timbul rasa khawatir terhadap orang asing. Jika kondisinya seperti ini sebaiknya jangan paksa anak berbicara dengan orang yang baru dikenalnya.

2. Penyayang
Balita sangat menyayangi orang yang mengasuhnya dan ia akan membalasnya dengan kasih sayang seperti memeluk atau mencium.

3. Pencari Perhatian
Balita selalu ingin diperhatikan. Ia suka jika diajak bermain, bercengkerama atau saling memeluk. Jika ia tidak mendapatkannya, ia akan berusaha sendiri untuk mendapatkannya.

4. Semangat Bermain
Balita sangat suka menjelajahi lingkungan sekitarnya dan ia akan melakukan apa saja agar bisa bermain dengan hal-hal baru yang didapatinya.

5. Penentang
Balita seperti ini kadang menjengkelkan karena sukanya berteriak keras dan menjerit-jerit atau seperti dalam suasana 'perang'. Menghadapinya harus dengan tenang dengan cara mengalihkan perhatiannya dan jangan ikut-ikutan dalam suasana 'perang' itu.

6. Sibuk
Keingintahuannya yang tinggi membuat balita selalu sibuk mencari hal-hal baru yang ingin diketahuinya. Sebaiknya berikan benda yang aman untuk memenuhi rasa keingintahuannya yang tinggi.

7. Ribut
Berteriak, menyanyi, memukul atau melempar benda-benda menjadi cirinya. Orangtua sebenarnya bisa ikut bernyanyi bersama dengan cara memukul-mukul kaleng misalnya. Setelah capek balita biasanya akan berhenti.

8. Seperti bayi
Kadang-kadang ia menjadi sangat manja seperti bayi berumur beberapa bulan. Jika sudah tidak menggunakan botol susu, tiba-tiba dia akan minta minum dengan botol susu. Perilaku ini adalah normal asalkan tidak keterusan.

9. Reaksioner
Balita suka hal-hal yang rutin dan tidak berubah-ubah. Dia tiba-tiba jadi suka pakai kaos yang sama dari hari ke hari atau makan makanan yang itu-itu saja.

Sumber : Irna Gustia - detikHealth
(Foto: thinkstock)

7 Tanda-tanda Bayi Sakit

Orangtua yang baru punya anak terkadang masih belum memahami kondisi seperti apa yang menunjukkan si kecil sakit. Untuk itu ketahui 7 tanda bahwa bayi sakit.

Saat bayi masih berusia di bawah usia 6 bulan, maka tubuhnya rentan terkena berbagai penyakit. Seperti dikutip dari Sheknows, Senin (11/10/2010) ada 7 tanda-tanda bahwa bayi sedang sakit, yaitu:

Demam

Bayi dikatakan demam jika suhunya lebih dari 38 derajat celsius. Jika demam diikuti dengan ruam, sulit bernapas, leher kaku, muntah atau diare, maka segera hubungi dokter. Demam sendiri bukanah suatu penyakit, melainkan respons bayi terhadap suatu penyakit terutama akibat infeksi.

Dehidrasi

Dehidrasi bisa terjadi jika bayi memiliki nafsu makan yang buruk, demam, lingkungan yang terlalu hangat atau muntah dan diare terus menerus. Kondisi ini bisa dikenali dengan cara mulut dan gusi kering, popok yang jarang basah serta tidak ada air mata ketika menangis.

Diare

Orangtua perlu menghubungi dokter jika terdapat darah di dalam tinja atau tinja berwarna hitam, lebih dari enam kali buang air besar dan berair serta susah untuk minum.

Muntah

Bayi mungkin sering mengalami gumoh setelah menyusui, jika hanya terjadi satu atau dua kali saja kemungkinan hal tersebut bukanlah kondisi serius. Tapi jika kondisi tersebut terjadi dalam frekuensi yang sering maka harus menjadi perhatian.

Sulit bernapas
Bayi yang memiliki kesulitan bernapas ditandai dengan gejala napas yang lebih cepat dari biasanya, bayi mendengus saat menghembuskan napas, kepala bayi terayun-ayun dan bibir bayi atau kulitnya terlihat kebiruan. Kondisi ini sebaiknya mendapatkan perhatian serius dan segera hubungi dokter.

Ruam

Jika ruam mencakup area yang luas, terutama jika terjadi di wajah, disertai demam, perdarahan atau bengkak, maka ada kemungkinan ruam disebabkan oleh infeksi.

Pilek

Infeksi saluran pernapasa atas disebabkan oleh virus dan sangat umum terjadi pada bayi, biasanya bisa berlangsung selama satu atau dua minggu. Jika disertai dengan demam dan nafsu makan yang buruk selama beberapa hari, maka penyembuhannya bisa lebih lama dan membutuhkan bantuan dokter.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Eits... Cuci Tangan Dulu, Sebelum Pegang Bayi

Bayi yang baru dilahirkan biasanya belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Orangtua atau tamu yang berkunjung sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang bayi.

Mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran penyakit. Hal ini juga berlaku untuk melindungi bayi yang baru lahir, karena bayi yang baru lahir termasuk ke dalam kelompok yang paling berisiko terinfeksi.

Peneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bahwa risiko kematian diantara kelompok bayi yang lahir di pedesaan Nepal berkurang sebanyak 44 persen setelah bidan atau orang yang membantu melahirkan mencuci tangannya sebelum proses persalinan, serta ibu yang mencuci tangan sebelum memegang bayinya.

Cuci tangan juga penting dilakukan sebelum orangtua memberikan makan pada bayinya, sesudah mengganti popok serta setelah menggunakan kamar mandi. Hal ini juga berlaku untuk seluruh anggota keluarga yang lain termasuk anak-anak yang lebih tua atau kakek neneknya.

Dikutip dari Babycenter, Senin (18/10/2010) sebaiknya orangtua bertindak tegas terhadap tamu yang berkunjung untuk memintanya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang bayi.

Namun hal ini tidaklah mudah, beberapa tamu kadang berpikir tidak perlu melakukannya karena ia tidak sedang sakit. Padahal kuman tetap bisa menyebar meskipun orang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Bayi yang berusia di bawah enam bulan memerlukan waktu yang lebih lama untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat, sehingga bisa membuatnya terhindar dari penyakit.

Karena itu tak ada salahnya meminta orang-orang yang menunjukkan gejala pilek, batuk, bersin atau demam untuk tidak berada terlalu dekat dengan bayi dan mencuci tangannya lebih sering.

Selain itu usahakan untuk menghindari keramaian atau kerumunan orang banyak jika ingin membawa si kecil berjalan-jalan, karena akan meningkatkan risiko bayi terkena infeksi.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Bayi Sebaiknya Jangan Diajak Jalan-jalan ke Mal

Di pusat-pusat perbelanjaan sering sekali terlihat pasangan yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa bulan keliling di mal. Amankah membawa bayi ke pusat-pusat keramaian?

"Rasanya kurang bijak jika membawa bayi yang terlalu kecil ke mal, karena diketahui negara kita masih banyak terdapat penyakit yang mudah menular melalui saluran udara," ujar dr Meita Dhamayanti, SpA(K), MKes saat dihubungi detikHealth, Senin (18/10/2010).

Bayi yang masih kecil memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah alias belum terlalu kuat. Sehingga menurut dr Meita ada baiknya jika menghindarkan bayi masuk ke tempat yang ramai atau penuh dengan kerumunan orang.

Tapi sayangnya masih banyak orangtua yang belum menyadari hal ini, dengan tetap membawa bayinya jalan-jalan ke mal. Padahal mal adalah salah satu tempat yang berisi bermacam-macam orang dan juga segala jenis bakteri serta virus.

Kapan bayi boleh diajak keluar rumah?

dr Meita menuturkan jika bayinya memang tidak memiliki risiko apapun, maka orangtua bisa membawa bayinya ke tempat keramaian setelah berusia 2 bulan. Karenanya tidak salah kalau orang dulu melarang bayinya keluar rumah sebelum berusia 40 hari.

Saat bayi berusia 2 bulan, memorinya sudah ada dan juga sel-sel kekebalan tubuhnya sudah tumbuh meskipun belum optimal.

Meski pun bayi 2 bulan sudah mulai terbentuk kekebalan tubuhnya tapi menurut dr Meita jangan terlalu sering atau lama membawa bayinya jalan-jalan. Kalau terpaksa harus diajak cukup ke satu tempat saja tidak perlu berkeliling-keliling mengikuti keinginan orangtuanya.

"Kalau mau membawa bayinya ke mal, sebaiknya hanya ke satu area saja dan usahakan dari rumah sudah tahu tujuannya mau kemana. Jangan membawa bayi keliling mal atau diajak muter-muter," ungkap dokter yang menjabat sebagai Ketua Satgas Remaja IDAI (Ikatan DOkter Anak Indonesia).

Tapi jika bayinya sejak lahir memang diketahui memiliki risiko terhadap penyakit tertentu, maka usia bayi yang diperbolehkan untuk diajak keluar rumah atau berjalan-jalan akan berbeda-beda tergantung dari kondisi si bayi.

dr Meita juga menyarankan sebaiknya terdapat tempat khusus untuk bayi di dalam pusat perbelanjaan. Tapi saat ini di mal masih terbatas memiliki tempat menyusui saja. Namun diharapkan nantinya di setiap mal terdapat tempat yang memang dikhususkan untuk bayi.

"Jika ingin membawa si kecil jalan-jalan lebih baik menggunakan dorongan bayi. Kondisi ini akan membuat bayi lebih terlindungi karena bentuknya yang tertutup serta bayi juga akan merasa lebih nyaman," ujar Staf Dosen Medik Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS Bandung.

Untuk itu bijaklah bagi orangtua jika ingin membawa bayinya yang masih kecil berjalan-jalan. Jika memang di rumah ada orang yang menjaga, sebaiknya bayi yang masih kecil ini tidak perlu dibawa atau diajak berkeliling tempat keramaian. Ingat risiko penyakit menular yang mudah melalui saluran udara.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

5 Kebiasaan Bayi Saat Tidur

Melihat bayi tidur bisa jadi adalah pemandangan yang menenangkan, tapi tidak semua bayi bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa bayi memiliki kebiasaan atau gangguan di dalam tidurnya.

Bagi orangtua baru beberapa kebiasaan bayi saat tidur seperti mengerang, merintih atau menendang tentu bisa membingungkan. Namun perilaku ini umumnya tidak berbahaya.

Dikutip dari Babycenter, Jumat (29/10/2010) ada 5 kebiasaan yang bisa dilakukan bayi saat tidur, yaitu:

1. Jeda bernapas
Jika diperhatikan, bayi bisa bernapas lebih cepat untuk sementara kemudian melambat dan bisa berhenti hingga 15 detik sebelum bernapas normal kembali.

Dokter biasanya menyebut dengan 'periodic breathing' dan merupakan hal yang umum terjadi pada bayi hingga berusia sekitar 6 bulan. Bayi yang prematur akan lebih sering mengalaminya. Jika tangan, kaki, dahi dan kulit sekitar mulut membiru, ada kemungkinan bayi mengalami kesulitan oksigen.

2. Mendengkur dan mendengus
Jika dengkuran atau suara mendengus yang dikeluarkan bayi memiliki irama teratur, maka tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini biasanya karena si kecil mengalami hidung tersumbat.

Tapi jika dengkurannya ada jeda diikuti dengan napas terengah-engah kemungkinan ada semacam penyumbatan di saluran napasnya seperti dari amandel atau kelenjar gondok. Dan bisa juga bayi mendengkur karena alergi.

3. Berkeringat
Beberapa bayi berkeringat lebih banyak saat ia tidur, karena ia menghabiskan waktu lebih banyak dalam tahap terdalam tidurnya. Kondisi ini yang membuat bayi lebih cenderung berkeringat di malam hari dibanding orang dewasa atau anak-anak yang lebih tua.

Meskipun keringat adalah kondisi umum, tapi jika terlalu berlebihan bisa menunjukkan ada sesuatu yang salah. Misalnya terjadi infeksi, sleep apnea atau overheating yang dapat memicu sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) terutama jika si kecil menggunakan baju atau selimut berlapis-lapis.

4. Sering bergerak
Biasanya kebiasaan sering menggoyang atau menggerakkan badan saat tidur dimulai sekitar usia 6 bulan yang kadang disertai dengan membenturkan kepala. Gerakan ini adalah salah satu perilaku untuk menenangkan dirinya sendiri. Pada umumnya kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan selama tidak membahayakan keadaan si kecil.

5. Tidur sambil menggertak gigi
Sebagian besar bayi memiliki kebiasaan menggertak gigi saat tidur, kondisi ini paling sering terjadi saat bayi mendapatkan gigi pertamanya atau baru mendapatkan gigi permanennya.

Kemungkinan bayi melakukan ini karena ada sensasi dari gigi baru, rasa sakit akibat tumbuh gigi atau dari infeksi telinga dan bisa juga karena masalah pernapasan.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Bayi Sangat Suka Bercermin

Tak bisa dipungkiri hampir semua bayi pasti akan menunjukkan ekspresi senang atau terkejut ketika dihadapkan pada sebuah cermin. Kenapa bayi-bayi suka sekali mengaca?

Ketika bayi diperlihatkan di depan cermin, maka ia akan menunjukkan ekspresi terkejut melihat refleksi dirinya. Ia akan memandangi gambar bayi dicermin yang mirip dengannya tapi ia tidak menyadari bahwa itu adalah dirinya sendiri.

"Pada umumnya bayi senang melihat wajah-wajah atau ekspresi tertentu, terutama ekspresi yang menyenangkan," ujar Dr Ari Brown, seorang dokter anak dan penulis buku Baby 411: Clear Answers and Smart Advice for Your Baby's First Year, seperti dikutip dari Babytoday, Selasa (16/11/2010).

Ketika bayi melihat di cermin, ia tidak sadar kalau wajah itu adalah dirinya sendiri maka ia akan berusaha untuk tersenyum, tertawa dan menunjukkan wajah yang ekspresif. Hal ini akan menjadikan cermin sebagai mainan favorit hampir pada semua bayi.

Bayi sangat menyukai wajah-wajah manusia yang menarik, bahkan dengan wajahnya sendiri. Namun pada saat usianya mencapai 9 bulan, ia akan mulai menyadari dan mengerti bahwa wajah yang dicermin tersebut adalah dirinya sendiri.

Dr Brown menuturkan tak lama setelah kelahiran, bayi yang baru lahir akan fokus pada wajah atau sesuatu yang dekat dengan jarak tak lebih dari 30 cm. Lalu ketika ia berusia 6-8 minggu, bayi sudah mulai bisa meniru ekspresi wajah dan melihat wajahnya di cermin.

"Interaksi sederhana bayi dengan cermin bisa mengembangkan keterampilannya, serta bisa mendorong keterlibatan sosial dan interaksi dengan orang lain. Setiap orang belajar untuk membaca wajah orang dan ekspresinya, begitu pun dengan bayi yang belajar melalui cermin," ujar Dr Brown.

Orangtua bisa bermain dengan cermin yang menempel di dinding sambil menggendong bayinya sehingga ia dapat berkomunikasi dengan si kecil seperti, 'Siapa itu bayi yang ada dicermin?'

Satu hal yang harus diperhatikan orangtua ketika ingin bermain dengan cermin adalah pastikan posisi cermin berada dalam tempat yang aman, menghindari ujung-ujung cermin yang tajam dan tetap menjaga kenyamanan bayi.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Beginilah Bentuk Bayi yang Baru Lahir

Beberapa bayi yang baru lahir kadang terlihat lucu dengan bentuk kepala atau badannya yang 'aneh'. Kenapa bayi yang baru lahir memiliki bentuk badan yang unik?

Bentuk unik bayi yang baru lahir itu biasanya memiliki bentuk kepala lonjong, alat kelamin yang membengkak atau kulit yang terlihat seperti keriput.

Seperti dikutip dari Babycenter, Kamis (2/12/2010) ada beberapa penyebab tubuh bayi yang baru lahir terlihat unik, yaitu:

Kepala
Jika bayi dilahirkan melalui vagina atau normal, maka kepala bayi mungkin terlihat agak lonjong atau disebut molding. Kondisi ini terjadi akibat dorongan saat bayi berusaha keluar melalui jalan lahir atau akibat penggunaan alat bantu forcep dan vakum.

Tapi bentuk kepala akan kembali normal sekitar satu minggu kemudian. Sedangkan bagi bayi yang lahir melalui operasi caesar umumnya memiliki bentuk kepala bulat bagus karena tidak mendapat tekanan saat keluar.

Lengan dan kaki
Setelah menghabiskan waktu lama meringkuk di dalam rahim yang sempit, maka bayi butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebebasannya. Karenanya lengan dan kaki mungkin agak terlihat bengkok dalam beberapa hari pertama, tapi lengan dan kaki akan melurus dalam waktu 1-2 minggu.

Perut
Bayi akan kehilangan sedikit berat badannya pada minggu pertama, tapi akan meningkat lagi di minggu kedua dan pada bulan-bulan berikutnya perut si kecil akan cepat terisi. Dan ususnya belum sempurna karena masih terdapat pori-pori, biasanya pori-pori ini akan tertutup sempurna oleh cairan dari air susu ibunya.

Tapi setelah 10-14 hari tali pusat akan copot dan meninggalkan bentuk pusar yang menggemaskan.

Alat kelamin dan payudara
Alat kelamin dan payudara anak laki-laki dan perempuan yang baru lahir sering terlihat membengkak, hal ini karena kelebihan dosis hormon sebelum kelahiran.

Selain itu mungkin akan keluar sedikit cairan dari puting susu, tapi jangan mencoba memeras karena cairan ini tidak berbahaya dan akan mengering sendiri. Semua ini akan hilang dalam beberapa minggu pertama.

Kulit
Kulit bayi yang muncul biasanya bervariasi. Bayi yang lahir prematur akan memiliki kulit tipis, hampir transparan dan terdapat rambut berbulu halus yang disbeut lanugo. Selain itu juga terlihat vernix, yaitu cairan putih yang melindungi kulit bayi dari cairan ketuban. Semakin cepat usia kelahirannya, maka lanugo dan vernix yang muncul semakin banyak.

Jika normal, bayi dari semua ras dan etnis dilahirkan dengan kulit kemerahan-ungu yang akan berubah menjadi merah-pink dalam waktu sehari atau lebih. Warna pink berasal dari pembuluh darah merah yang terlihat akibat kulit bayi yang tipis. Setelah enam bulan, kulit bayi akan berkembang dengan warna yang tetap.

Rambut
Umumnya bayi akan kehilangan beberapa helai rambut dalam minggu atau bulan pertamanya, tapi akan tumbuh kembali meskipun mungkin tidak sama. Tekstur rambut bayi selama 6 bulan pertama sering berubah-ubah, misalnya kadang kasar, ikal dan lebat, ikal halus atau justru rambutnya tipis.

Mata
Terkadang warna mata bayi berubah-ubah dalam beberapa minggu setelah lahir, ada yang berwarna hitam, coklat atau biru tua. Tapi warna mata paling sering terlihat telah permanen setelah berusia 6-9 bulan.

Telinga
Telinga bayi mungkin akan sangat lembut dan lemas atau tidak keras, dengan salah satu ujungnya sedikit tertekuk. Setelah tulang rawan di telinga menjadi keras, maka bentuk telinganya akan terlihat lebih pasti.

Hidung
Hidung bayi mungkin akan terlihat sedikit membengkak akibat tekanan yang terjadi saat persalinan, serta terlihat pipih atau tidak teratur. Tapi kondisi ini akan kembali normal setelah beberapa hari atau minggu kelahiran.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Jumat, 17 Desember 2010

Berenang Bikin IQ Anak Tinggi

Ajaklah si kecil berenang. Sekalipun masih bayi, tak masalah. Bahkan, bayi baru lahir pun tak akan tenggelam kalau dicemplungkan ke dalam air.
Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistik IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional, dan sosialnya pun lebih baik.

Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa karena bayi tak pernah memiliki faktor X, semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.
Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam karena pada usia tersebut ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. "Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan," jelas Dr Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.

Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usia tersebut bayi tak bisa berenang lagi, lho.
Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisasi atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang. Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan.
Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lho. "Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami." Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang.
Harus aman
Yang penting diperhatikan, ketika berenang, bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orangtua harus mendampinginya. "Jika orangtua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respons dari orangtua," tutur Karel. Di samping dengan orangtua mendampingi, juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antarmanusia. "Ini merupakan salah satu keunggulan berenang."

Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orangtua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus-menerus dengan anak? Kan, enggak. "Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak." Itulah mengapa, kedua orangtua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air. Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan.

"Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai." Bukankah saat berenang semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu yang bekerja.

Sumber : Komps.com - Editor: Lusia Kus Anna   |   Sumber :NAKITA
foto : shutterstock
 

Minggu, 12 Desember 2010

Orangtua Tak Perlu Malu Punya Anak Autis

Jakarta, Memiliki anak berkebutuhan khusus atau anak autis memang menambah besar tanggung jawab orangtua, seperti memberikan perhatian yang khusus serta biaya yang juga ekstra. Orangtua tak perlu malu bila mempunyai anak autis.

Banyak orangtua yang merasa ketakutan anaknya akan terlahir autis. Bahkan banyak pula yang merasa malu dan akhirnya menelantarkan anaknya begitu saja atau bahkan ada yang dipasung.

Sebenarnya beberapa tanda autis bisa dideteksi mulai dari bayi lahir hingga anak berumur lima tahunan. Deteksi dini bisa mengurangi beban mental dan mempercepat penanganan anak autis.

"Autis itu bukan penyakit yang menular, tapi banyak orangtua yang malu kalau punya anak autis, hingga akhirnya dititipkan di panti, keluarga yang lain atau bahkan ada yang dipasung," jelas dr Suzy Yusnadewi, SpKJ (K), psikiater anak dari RSJ Grogol, dalam acara Aktivasi Pedulimu 'Untuk Kemandirian Autis Dhuafa' yang diadakan Rumah Autis dan Antam di Margo City, Depok, Sabtu (11/12/2010).

Menurut dr Suzy, stigma 'malu punya anak autis' itu ada dari masyarakat sendiri. Sebetulnya stigma anak autis sangat berbeda dengan gangguan jiwa yang lain.

Kebanyakan orangtua malu karena anak yang dilahirkannya tidak bisa berperan sama sekali. Apalagi dengan adanya autisme yang disertai retardasi (keterbelangkangan) mental yang kadang berperilaku mengganggu seperti ngiler, tantrum (teriak-teriak) atau marah.

"Orangtua tak perlu malu punya anak autis, justru anak autis itu juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, perlu juga diajak bertemu dengan orang banyak. Mereka juga harus bergaul," jelas dr Suzy yang juga berpraktik di di klinik Talenta Center.

Autisme memang tidak bisa disembuhkan, tetapi bila dapat dideteksi dini autisme bisa ditangani hingga individu tersebut bisa terinteraksi layaknya orang lain yang normal, walaupun masih ada tanda-tanda autismenya.

Menurut dr Suzy, bila diasuh dan ditanggani dengan baik, anak autis akan bisa berinteraksi layaknya orang normal, yang bersekolah, bekerja, mandiri dan bersosialisasi.

Yang menjadi masalah, menurut Dr Suzy, kebanyakan orangtua tidak mengetahui atau kadang menganggap remeh gejala-gejala awal autisme, sehingga kebanyakan terlambat menanganinya.

"Yang terpenting kenali anak Anda. Kenali perkembangannya mulai dari bayi. Bayi usia 0-1 tahun itu sudah bisa kok dikenali ciri-ciri autisnya. Dan semakin cepat diketahui maka semakin baik hasil penanganannya," lanjut Dr Suzy.

Dilansir dari Disabledworld Minggu (12/12/2010), berikut ini beberapa gejala autis yang bisa dideteksi mulai dari bayi hingga tahun kelima pertumbuhan anak:

Baru lahir
Sejak bayi, anak autis biasanya tidak bisa merasakan atau merespons kehadiran orangtuanya. Ia tidak akan tertarik untuk melakukan kontak mata dan cenderung tertarik dengan objek yang bergerak. Bayi autis juga lebih banyak diam dan tidak menangis selama berjam-jam.

Tahun Pertama
Ada sejumlah kemampuan utama yang umumnya dicapai anak-anak dalam usia setahun antara lain berdiri dengan bantuan orangtua, merangkak, mengucapkan sebuah kata sederhana, menggerakkan tangan, tepuk tangan atau gerak sederhana lainnya.

Jika anak tidak dapat melakukan kemampuan ini, tidak berarti itu gejala autisme. Ia dapat saja mencapai kemampuan itu nanti. Namun tak ada salahnya untuk waspada dan segera periksakan jika anak tak mencapai satu pun kemampuan umum diatas.

Tahun Kedua
Gejala autisme terlihat lebih jelas jika anak tidak tertarik pada ibunya atau orang lain, jarang menatap atau tidak terjadi kontak mata, tidak menunjuk atau melihat pada objek yang diinginkan, tak dapat mengucapkan dua patah kata, kehilangan kata-kata yang sebelumnya ia kuasai, mengulang-ulang gerakan seperti menggoyangkan tangan atau mengayunkan tubuh ke depan-belakang, tidak suka bermain, sering berjalan berjinjit.

Tahun Ketiga-Kelima
Gejala autisme setelah tahun kedua, semua yang terjadi pada tahun sebelumnya di atas dengan tambahan terobsesi oleh suatu objek tertentu seperti mainan atau game, sangat tertarik dengan suatu rutinitas, susunan atau keteraturan benda, sangat marah jika keteraturan atau susunan benda terganggu, sensitif terhadap suara keras yang sebenarnya tidak mengganggu anak lainnya dan sensitif terhadap sentuhan orang lain seperti tak suka dipeluk.

Jika bayi memiliki salah satu atau beberapa gejala di atas, segera periksakan ke dokter spesialis untuk meyakinkan kekhawatiran orangtua dan meringankan beban mental sedini mungkin.

Sumber :  Merry Wahyuningsih - detikHealth 
(Foto: thinkstock)

Sabtu, 06 November 2010

Menyimpan ASI dengan Aman dan Benar


Bekerja dengan status ibu menyusui kerap merepotkan. Terkadang tak ada pilihan selain menggunakan pompa ASI. Penting untuk mengetahui bagaimana penyimpanan ASI yang aman dan benar.

Inilah yang perlu diperhatikan saat ibu memilih untuk menyimpan ASI nya.

1. Pastikan wadah penyimpanan yang Anda gunakan tertutup rapat dan sebelum digunakan sebaiknya dicuci dengan sabun, air panas dan bilas hingga bersih. Anda mungkin bisa mempertimbangkan merebus dulu wadah penyimpanan di air bersih sebelum digunakan.

2. Jika Anda ingin menyimpan ASI lebih tiga hari, masukkan ke dalam kantong plastik yang dibuat khusus untuk penyimpanan ASI. Masukkan ke dalam freezer. Tempatkan di bagian paling belakang karena disitulah tempat yg paling dingin. Jangan terlalu banyak menyimpan susu, sesuaikan dengan kebutuhan. Perlu diketahui bahwa ASI bisa mengembang juga bisa membeku, jadi jangan mengisi wadah sampai penuh. Dan pastikan tangan Anda bersih sebelum mengolah susu.

3. Anda boleh saja menambahkan ASI baru ke ASI yang sebelumnya telah didinginkan, tapi pastikan ASI yang sebelumnya sudah dimasukkan ke dalam lemari es. Sebaiknya penambahan ASI tidak kurang dari satu jam, sebelum ASI dingin. Jangan menambahkan susu hangat ke atas susu beku karena dapat mengakibatkan susu beku mencair. Tetap simpan susu di waktu dan tempat yang berbeda.

4. Berapa lama ASI dapat bertahan tergantung dari penyimpanannya. Dalam suhu kamar 39 F (25 C), susu dapat disimpan selama enam sampai delapan jam. Susu yang disimpan dalam lemari es pada 39 F (4 C) dapat bertahan hingga delapan hari.Sedangkan susu yang disimpan dalam freezer bersuhu 5 F (-15 C) bisa dua minggu. Jika freezer Anda memiliki pintu terpisah dan suhu 0 F (-18 C), ASI dapat disimpan selama tiga sampai enam bulan. Jika Anda memiliki freezer yang terbuka jarang dan memiliki suhu -4 F (-20 C), ASI dapat disimpan selama enam sampai 12 bulan.

Tapi perlu diperhatikan, berapa penelitian menunjukkan bahwa semakin lama Anda menyimpan ASI, baik dalam lemari es atau dalam freezer maka semakin besar hilangnya vitamin C dalam susu.

Penelitian lain menunjukkan bahwa pendinginan lebih dari dua hari dapat pula mengurangi sifat pembunuh bakteri pada ASI dan jangka panjang penyimpanan freezer dapat menurunkan kualitas lemak susu.

5. Bila Anda ingin mencairkan susu, letakkan wadah di atas air hangat. Hindari air mengenai bibir wadah. Jangan mencairkan susu dalam suhu kamar, karena memungkinkan bakteri berkembang dalam susu. Hindari mencairkan susu dengan meletakkannya di atas kompor atau dalam oven, ini dapat menghacurkan antibodi susu.

Sumber : BANJARMASINPOST.CO.ID
Foto : Getty Images

Untuk Bayi, Pilihlah Ayam Kampung


Daging ayam menjadi salah satu favorit para ibu sebagai campuran makanan pendamping ASI. Akan tetapi, sebaiknya Anda memilih ayam kampung, bukan ayam negeri. Pasalnya meski dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.

"Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya," kata dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO.

Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. "Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja," lanjut Dadang.

Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. "Tapi jangan terlalu sering, ya," pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja.

Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi. Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. "Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi," tutur Dadang.

Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.

"Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi," terang Dadang.

Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.

Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. "Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja." Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur.

Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. "Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam." Tapi jangan lupa, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.

Sumber : BANJARMASINPOST.CO.ID
Foto : Getty Images

Indra Pendengaran Pengaruhi Kecerdasan


Anak-anak yang pada masa bayi memiliki kepekaan pendengaran yang baik, biasanya akan mempunyai kecerdasan yang cukup baik. Kita perlu merangsang kepekaannya.

Bayi sudah peka terhadap suara sejak di kandungan. Banyak penelitian telah membuktikannya. Misalnya, bayi akan menunjukkan perubahan kecepatan mengisap dan merespon ketika mendengar musik yang biasa diperdengarkan selama ia masih berada di kandungan, atau ketika ia mendengar tuturan cerita yang pernah didengarnya saat masih di kandungan.

Nah, itu ada kaitannya dengan perkembangan kognitif. Makanya, seperti dituturkan Lidia L. Hidajat, MPH.,  kepekaan pendengaran biasanya dikaitkan dengan perkembangan kognitif bayi selanjutnya. "Anak-anak yang pada masa bayi menunjukan kepekaan pendengaran yang baik, biasanya akan mempunyai kecerdasan yang cukup baik," kata psikolog dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta ini.

Rangsangan dengan musik

Banyak cara bisa dilakukan orang tua untuk merangsang kepekaan indra pendengaran bayi. Salah satunya dengan memperdengarkan musik. Sebagaimana kita ketahui, sejumlah penelitian telah dilakukan di beberapa negara, termasuk Indonesia, untuk melihat keterkaitan antara pemberian musik selama bayi di kandungan dengan kecerdasan.

Kendati penelitian di Indonesia, tutur Lidia, belum dapat membuktikan bahwa musik dapat meningkatkan kecerdasan, namun musik jelas dapat menenangkan bayi yang rewel. Jadi, tak ada salahnya Bapak-Ibu merangsang pendengaran si kecil dengan musik. Adapun jenis musik yang disarankan ialah musik klasik atau easy listening . Kenapa tidak jenis musik lain, rock, misalnya? "Karena musik rock, menurut penelitian, dapat mengakibatkan sikap agresif.

Sedangkan jenis musik klasik atau musik yang easy listening  memiliki nada-nada yang mudah diikuti, termasuk oleh bayi," terang Lidia. Selain musik, suara ibu-bapak dan orang-orang yang dekat dengan bayi juga dapat merangsang kepekaan indra pendengaran si kecil, tutur Lidia.

Bahkan menurut beberapa pakar, kepekaan pendengaran bayi sebenarnya sudah terasah ketika usianya belum genap tiga hari. Bukankah sejak janin, pendengarannya sudah peka terhadap suara? Nah, pada usia sedini itu, bayi sudah bisa membedakan suara ibunya dari suara orang lain.

Walaupun belum mengerti, bayi juga menunjukan perilaku yang berbeda ketika mendengar bahasa yang biasa diucapkan ibunya ketimbang bahasa lain yang asing di telinganya. Itulah mengapa, para ahli menyarankan agar ibu memberikan contoh bahasa yang baik dan benar. Jadi, jangan omong dengan pengucapan yang dicadelkan. Nanti si kecil malah jadi bingung.

"Mainan gemerincing yang banyak dijual di pasaran juga dapat digunakan untuk merangsang kepekaan indra pendengaran bayi," lanjut Lidia. Pada bayi kecil yang belum dapat menggenggam, Ibu dan Bapak bisa merangsangnya dengan membantu mengguncangkan mainan di dekatnya. Lain hal pada bayi yang sudah lebih besar, ia bisa memainkannya sendiri.

Sumber : BANJARMASINPOST.CO.ID
Foto : Getty Images

Kamis, 28 Oktober 2010

Ajari Anak Menghargai Orang Lain


SETIAP 20 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Martabat Sedunia. Untuk tahun ini, melalui peringatan tersebut, para pemimpin dan pendidik diserukan agar mengajarkan anak untuk memahami apa itu martabat sehingga anak dapat menghargai orang lain.

Untuk menyukseskan program itu, Anda bisa ikut serta dengan turut mengajarkan anak Anda agar mereka menjadi pribadi yang mampu menanamkan nilai-nilai martabat dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa tipsnya:

1. Beri tahu anak bahwa setiap orang di dunia ini berhak untuk menjalani hidup yang baik dan bermartabat baik itu, anak-anak, lansia, orang miskin, dan orang kaya. Katakan bahwa semua orang itu masing-masing memiliki harga diri dan berhak untuk menjalani kehidupan yang baik.

2. Contohkan dalam kegiatan sehari-hari untuk mengenalkan anak mengenain konsep martabat. Misalkan saat makan malam di meja. Bicarakan dengan anak apa artinya ketika kita mengucapkan kata 'terima kasih' dan 'tolong' saat hendak menyajikan makanan. Begitu pula saat menonton televisi. Tentunya ada beberapa tayangan yang berkaitan dengan rasa menghargai orang lain. Seperti dalam ajang olahraga, beritahukan itu mengenai sikap yang seharusnya ditunjukkan para atlet, pelatih, maupun pendukung. Dengan begitu anak akan perlahan memahami bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan rasa hormat.

3. Pemahaman anak tentang martabat tentunya bergantung dari cara penjelasan Anda. Untuk mempermudah, coba berikan kisah tentang beberapa sosok yang patut menjadi anutan misalnya kisah-kisah nabi seperti Nabi Muhammad SAW maupun Bunda Teresa. Atau Anda juga bisa mencontohkan beberapa orang di lingkungan Anda seperti nenek dan kakek maupun tetangga.

4. Supaya mereka juga bisa merasakan bagaimana perasaan ketika dihormati, Anda juga bisa memberikan contoh dengan menghargainya. Berikan pujian bila mereka telah melakukan sesuatu yang baik seperti sudah memakan habis sarapan. Dalam aktivitasnya, ajarkan rasa berbagi dengan mengikutsertakannya dengan permainan kelompok yang mengharuskan mereka berbagi mainan. Dan, ajarkan pula untuk menerima perbedaan orang lain.

Sumber : Media Indonesia.com - Penulis : prita daneswari
Foto : thelearningcommunity.us

5 Tips Agar Anak Doyan Membaca


SELAMA bertahun-tahun, orang tua dan guru sama-sama berjuang agar anak-anak memiliki minat untuk membaca dan mencari tahu apa penyebab mengapa mereka tak menyukai kegiatan itu. Namun, jangan paksakan si kecil supaya menjadi kutu buku. Leboh baik temukan cara yang tepat supaya membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan bahkan bagi anak yang pemalas sekali pun.

1. Berlibur di rumah

Coba berikanlah buku menarik kepada anak, bukan tentang kegiatan atau hal-hal yang bisa mereka temui setiap harinya, melainkan cerita dari zaman atau waktu yang berbeda. Bila anak sudah mulai menemukan cerita yang disukai, mereka pun akan merasa penasaran dan akan terus membaca buku itu.

2. Beri hadiah

Anak terkadang tidak menyadari manfaat dari membaca buku. Maka itu, coba berikan mereka sesuatu sebagi sebuah hadiah. Contohnya membaca selama masa libur, bila mereka bisa membaca beberapa buku selam hari libur, berikanlah mereka hadiah.

3. Jadi pendongeng

Cobalah membacakan buku cerita bergambar seperti komik kepada anak. Bedakan suara setiap karakternya. Jangan buat anak fokus terhadap gambar, tapi buatlah mereka berpikir apa yang kan terjadi selanjutnya dalan sebuah kisah atau cerita.

4. Bikin anak aktif

Setelah Anda membacakan cerita dengan suara Anda, minta anak untuk mengambil salah satu peran dalam cerita. Dengan begitu, anak akan lebih memahami karakter cerita dan motivasi mereka untuk mengetahui cerita tersebut pun lebih besar.

5. Pergi ke toko buku
Sekali-kali, ajaklah anak ke toko buku agar mereka dapat memilih sendiri buku apa yang ingin mereka baca.

Sumber : Media Indonesia.com - Penulis : prita daneswari
Foto : communicativehealthcare.com