Tampilkan postingan dengan label LUPUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LUPUS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2010

Pria Asia Rentan Kena Lupus Karena Kelainan Kromosom Seks

Los Angeles, Penyakit lupus lebih banyak menyerang wanita usia produktif dan hanya sebagian kecil saja yang menyerang pria. Tapi adanya kelainan genetik pada kromosom seks membuat beberapa pria di Asia rentan terkena penyakit autoimun tersebut.

Pada umumnya manusia memiliki 2 kromosom seks, kecuali pada kasus-kasus tertentu seseorang memiliki 3 kromosom. Pria normal mempunyai kromosom X dan Y, sementara wanita mempunyai 2 kromosom X.

Menurut sebuah penelitian, variasi genetik pada kromosom X dapat meningkatkan risiko terkena lupus. Meski kromosom X merupakan kromosom wanita, namun variasi tersebut lebih berpengaruh pada pria yang hanya mempunyai 1 kromosom X.

Dikutip dari Sciencedaily, Selasa (23/8/2010), sebuah penelitian yang dilakukan di University of California, Los Angeles (UCLA) mengungkap variasi tersebut menyebabkan respons tertentu pada sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, pria dengan variasi tersebut lebih rentan terkena lupus.

Para peneliti menyimpulkan hal itu setelah melakukan pengamatan kromosom terhadap 9.274 orang dari berbagai etnis di wilayah Asia Timur. Tidak semuanya menderita lupus, beberapa orang sehat juga dilibatkan sebagai kontrol pembanding.

Selain berhubungan dengan jenis kelamin, peneliti menyimpulkan bahwa pengaruh variasi genetik tersebut juga berhubungan dengan etnis seseorang. Dalam penelitian tersebut, pengaruhnya teramati lebih kuat pada pria China dan Jepang.

Dikatakan oleh para peneliti, temuan ini akan membantu memahami pengaruh faktor genetis terhadap penyakit lupus. Dengan pemahaman tersebut, pengembangan terapi bisa diarahkan pada target yang lebih tepat.

Penelitian tersebut didanai oleh Lupus Institute, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan utnuk mendukung penelitian tentang lupus. Hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 23 Agustus 2010.

Sumber : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: thinkstock

Obat Malaria Kurangi Kematian Akibat Lupus

Jakarta, Penyakit lupus jika tidak segera ditangani dengan bisa berakibat fatal hingga kematian. Tapi sebuah penelitian terbaru menunjukkan obat yang digunakan untuk mencegah malaria bisa membantu mengurangi angka kematian akibat Lupus.

Lupus merupakan penyakit kronik atau menahun dan dikenal sebagai penyakit autoimun. Lupus juga sering disebut dengan penyakit seribu wajah karena gejala yang muncul menyerupai penyakit lain (mimikri). Selain itu penyakit ini juga bisa menyerang seluruh organ tubuh.

"Berdasarkan penelitian yang dilakukan sejak tahun 1997 diketahui bahwa obat malaria terbukti bermanfaat untuk mencegah kekambuhan, mengurangi kerusakan tubuh serta mengurangi angka kematian," ujar Prof dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM dalam acara talk show 'Lupus Dengan Saraf' untuk memperingati hari lupus sedunia di gedung Menza, Salemba, Jakarta, Jumat (7/5/2010).

Prof Zubairi menuturkan berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa angka kematian kelompok yang tidak mengonsumsi obat malaria sebesar 11,5 persen, sedangkan kelompok yang mengonsumsi obat malaria angka kematiannya hanya sebesar 4,4 persen.

"Obat malaria ini bisa dikonsumsi setiap hari, tapi penggunaannya harus hati-hati karena bisa berdampak pada gangguan retina. Karenanya orang yang mengonsumsi obat ini harus rutin setiap 2-3 bulan sekali periksa ke dokter mata untuk mengetahui kondisi retinanya," ungkapnya.

Saat ini pengetahuan masyarakat dan para dokter mengenai penyakit Lupus sudah semakin meningkat, sehingga angka kematian akibat Lupus di Indonesia sudah berkurang yaitu hanya sekitar 5-10 persen saja. Biasanya kematian ini disebabkan oleh keterlambatan dalam mendeteksi dan memutuskan pengobatan.

Prof Zubairi mengungkapkan jika penyakit Lupus ini dapat terkontrol dengan baik, maka seorang penderita Lupus bisa saja terlihat seperti orang normal. Namun demikian risiko kekambuhan masih tetap ada, meskipun frekuensinya akan sangat jarang.

Penyebab dari penyakit Lupus ini adalah multi faktor. Namun demikian penderitanya kebanyakan adalah kaum perempuan karena berkaitan dengan kromosom X dan gen IRAK1. Tapi meskipun melibatkan gen tertentu, Lupus bukanlah penyakit menurun karena hanya sebesar 5-7 persen saja yang ibu dan anaknya positif menderita Lupus.

Berbagai cara bisa dilakukan agar tetap sehat meskipun menderita Lupus, yaitu melakukan kontrol secara berkala ke dokter, mengonsumsi obat secara teratur, membiasakan pola hidup sehat, menghindari rokok, kelelahan yang berat dan situasi stres serta adanya dukungan psikososial dari lingkungan sekitar.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
Ilustrasi (Foto: ox.ac.uk)

Dokter Sering Tertipu Lupus

Jakarta, Dikira rematik ternyata bukan, disangka stroke ternyata salah. Lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) alias penyakit antibodi yang menyerang tubuh sendiri itu punya seribu wajah, sehingga dokter kadang 'tertipu' ketika mendiagnosa pasien.

"Dokter kadang tertipu dengan penyakit lupus, apalagi jika sarana dan pengetahuan dokter mengenai lupus kurang memadai. Jadi saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan penderita lupus yang di desa," ujar dr Adre Mayza, SpS(K) dalam acara talk show 'Lupus Dengan Saraf' untuk memperingati hari lupus sedunia di gedung Menza, Salemba, Jakarta, Jumat (7/5/2010).

Jika dokter yang memeriksa tidak jeli dan kurang tahu tentang penyakit lupus, maka bisa saja akan melakukan banyak sekali pemeriksaan dan terkadang hasil pemeriksaan tersebut tidak memberikan diagnosa yang tepat.

"Salah satu tes yang sering kecolongan dalam pemeriksaan lupus adalah mengenai kekentalan darahnya. Orang yang menderita lupus akan memiliki darah yang lebih kental dibandingkan orang lain seusianya yang tidak menderita lupus," ungkap dokter berusia 52 tahun ini.

Gejala awal yang dialami oleh penderita lupus adalah:
  1. Sakit pada sendi atau tulang
  2. Demam atau panas tinggi yang berkepanjangan tapi bukan karena infeksi
  3. Sering merasa cepat lelah
  4. Ruam di kulit
  5. Anemia
  6. Gangguan ginjal
  7. Sakit di dada bila menghirup napas dalam-dalam
  8. Bercak merah pada wajah
  9. Sensitif terhadap matahari
  10. Stroke
  11. Sakit kepala
  12. Kejang
  13. Sariawan yang hilang timbul
  14. Keguguran.

Jika lupus ini menyerang saraf maka akan timbul gangguan seperti:
  1. Bingung secara tiba-tiba
  2. Gangguan kecemasan
  3. Kerusakan fungsi kognitif
  4. Gangguan saraf
  5. Kesemutan di sebagian tubuh
  6. Rasa tidak nyaman atau nyeri pada tangan dan paha atau kaki
  7. Gangguan afektif (mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi).

"Beberapa hal yang bisa menyebabkan neuropsikologi pada Lupus adalah kerusakan pembuluh darah mikro di otak, kerusakan pembuluh darah vena perifer serta kerusakan sel-sel saraf akibat proses autiantibodi," tambahnya.

Lupus bisa menyerang siapa saja tapi 90 persen adalah perempuan muda dengan usia antara 15-45 tahun dan 10 persennya adalah laki-laki dan anak-anak.

Satu hal yang perlu dikenali adalah sifat dari Lupus yang bisa menyerupai penyakit lain, sehingga seringkali pasien dating ke dokter umum atau dokter ahli yang beragam tergantung gejala yang muncul.

Jika Lupus terlambat didiagnosis maka bisa menyerang organ tubuh vital seseorang dengan cepat. Karena lupus sangat mudah menyerang organ ginjal, jantung, paru-paru, hati, darah, saraf, mata, sendi dan kulit.

Pengobatan yang bisa diberikan tergantung dari tipe Lupus yang diderita, berat atau ringannya lupus, organ tubuh yang terkena serta komplikasi yang ada.

Penyakit lupus adalah penyakit autoimun karena antibodi seseorang menyerang jaringan tubuhnya sendiri. Akibatnya bisa timbul peradangan atau inflamasi yang ditandai dengan rasa nyeri, sehingga orang yang menderita lupus seringkali mengeluh rasa sakit atau nyeri di sebagian atau seluruh tubuhnya.

"Untuk membantu mengurangi rasa nyeri tersebut seseorang harus bisa menenangkan dan membiarkan pikirannya mengalir apa adanya," ujar terapis Ratih Zimer Gandesetiawan.

Ratih menuturkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan tidak nyaman yang dialami oleh penderita lupus, yaitu:
  1. Cobalah untuk mengenal diri sendiri.
  2. Mensensitifkan diri sehingga Anda menjadi tahu hal-hal apa saja yang bisa membuat Anda merasa nyaman.
  3. Belajar mengenali wajah melalui cermin untuk tau emosi apa yang sedang terjadi pada diri kita.
  4. Memperbaiki posisi tubuh sehingga merasa lebih rileks.
  5. Mendengarkan musik sehingga membuat suasana hati lebih tenang.
  6. Mengurangi atau mencegah situasi stress, karena semakin stress akan memicu kejang otot yang bisa menimbulkan nyeri.

Karena tidak ada gejala khusus yang timbul pada penderita Lupus serta pengendalian dini yang sulit, maka jika timbul beberapa gejala tersebut bisa mendatangi dokter pemerhati Lupus yaitu dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi, rheumatologi, ginjal hipertensi dan alergi imunologi.

Sumber : Vera Farah Bararah - detikHealth
Foto : shareforus.com

Lupus Rentan Kanker Payudara Tapi Aman dari Kanker Usus

Jakarta, Meski tidak berhubungan secara langsung, pasien Lupus memiliki risiko lebih tinggi terkena berbagai jenis kanker. Tapi khusus untuk kanker kolon atau usus besar, risikonya pada orang dengan lupus (Odapus) justru lebih kecil.

Lupus atau lengkapnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE) disebut juga penyakit seribu wajah karena gejalanya bisa sangat bervariasi tergantung bagian mana yang diserang. Tak jarang para dokter salah mendiagnosis Lupus sebagai penyakit lain.

Penyakit ini dipicu oleh gangguan autoimun dan bisa menyerang berbagai organ vital seperti ginjal, jantung, hati dan saraf dan lebih banyak menyerang wanita produktif.

Tidak hanya itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa Lupus juga meningkatkan risiko berbagai jenis kanker.

dr Dyah A Waluyo dari Yayasan Lupus Indonesia mengatakan, jenis-jenis kanker yang risikonya meningkat pada odapus (orang dengan lupus) adalah sebagai berikut:

1. Kanker payudara
Diduga karena lupus mempengaruhi produksi hormon esterogen.

2. Limphoma atau kanker ganas pada sel darah putih
Diduga karena stimulasi berlebih pada sel limfosit B yang merupakan komponen sistem kekebalan tubuh.

3. Kanker paru-paru
Pada Odapus risiko kanker paru-paru meningkat 1,4 kali dibanding populasi umum. Risikonya lebih tinggi lagi jika Odapus adalah seorang perokok.

4. Kanker leher rahim
Peningkatan risiko kanker leher rahim (serviks) meningkat terutama jika Odapus memiliki riwayat infeksi menular seksual dan menggunakan kontrasepsi.

5. Kanker endometrium
Endometrium atau rahim Odapus rentan terserang kanker, meski penyebabnya tidak diketahui.

Meskipun demikian tidak semua jenis kanker akan meningkat risikonya akibat lupus. Risiko kanker kolon atau usus besar pada odapus justru lebih kecil dibandingkan orang sehat, diduga sebagai efek samping penggunaan aspirin dan obat-obatan Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) jangka panjang.

"Ada kaitan antara lupus dengan risiko kanker, namun penyebab pastinya semua masih dalam dugaan," ungkap dr Dyah yang juga mengidap lupus, saat berbicara dalam seminar "Lupus Update" di RS Kramat 128, Jakarta, Jumat (10/12/2010).

Dokter yang juga kehilangan payudara, akibat kanker 5 tahun lalu itu mengatakan bahwa Odapus tidak perlu takut dengan risiko tersebut, sebab yang terpenting adalah mengantisipasinya sejak dini.

Caranya dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
  1. Melakukan vaksinasi Human Papoloma Virus (HPV)
  2. Rutin melakukan papsmear setiap 6 bulan
  3. Kontrol rutin ke dokter
  4. Mengikuti terapi yang diberikan, tidak menaikkan atau menurunkan sendiri obat yang diberikan.
 Sumber : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto : steadyhealth.com

Lupus Bisa Pakai Herbal Asal Tak Tinggalkan Obat Moderen

Jakarta, Beberapa jenis herbal memang baik untuk kesehatan dan bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun jika ada yang diklaim bisa menyembuhkan penyakit terutama lupus, jangan langsung percaya. Utamakan pengobatan medis, herbal hanya alternatif jika upaya lain tidak berhasil.

Salah satu herbal yang banyak ditawarkan pada Orang Dengan Lupus (Odapus) adalah buah merah (Pandanus conodius) asal Papua. Secara turun temurun, buah ini telah dikonsumsi oleh masyarakat di bumi cendrawasih dan terbukti mampu memperbaiki daya tahan tubuh.

Kandungan gizi di dalam buah merah memang bermanfaat bagi tubuh karena didominasi oleh asam lemak dan anti oksidan yang berguna untuk melindungi sel dari kerusakan. Berbagai jenis antioksidan di dalam buah merah antara lain beta karoten, vitamin C, E, dan A.

Manfaat buah merah bagi tubuh manusia juga diakui oleh dokter spesialis penyakit dalam dari Universitas Indonesia, Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM. Ia pun tidak melarang jika Odapus hendak mengonsumsinya sebagai Complementary Alternative Medicine (CAM) atau obat alternatif.

Namun ia menegaskan, penggunaan herbal seperti obat merah jangan sampai menghentikan atau menggantikan pengobatan medis. Obat alternatif digunakan hanya sebagai pelengkap, atau bisa juga menggantikan jika penyakitnya sudah benar-benar tidak bisa diatasi secara medis.

"Sebagai buah, saya setuju 100 persen bahwa buah merah sangat bermanfaat. Tapi untuk mengobati Lupus, tunggu dulu karena belum ada bukti ilmiah," ungkap Prof Zubairi saat berbicara dalam seminar "Lupus Update" di RS Kramat 128, Jakarta, Jumat (10/12/2010).

Prof Zubairi mengatakan bahwa tidak mungkin ada obat apalagi herbal yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit sekaligus. Apalagi Lupus merupakan gangguan autoimun yang bisa menyerang bagian tubuh manapun, sehingga tidak mungkin ada satu jenis herbal yang mampu mengobati semuanya.

"Di dunia ini tidak mungkin ada magic bullet (satu obat untuk semua penyakit). Obat moderen saja butuh dikombinasi, sehingga tidak mungkin buah merah bisa mengatasi semuanya sendirian," tambah Prof Zubairi.

Pendapat senada juga disampaikan Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI), Tiara Savitri. Tiara yang merupakan adik kandung aktor kawakan Donny Damara dan juga seorang odapus bahkan menyarankan untuk tidak mencampur obat moderen dengan alternatif sebelum ada perkembangan positif pada penyakitnya.

"Jangan dikombinasikan sebelum penyakitnya benar-benar membaik. Nanti malah bingung mengetahui mana yang sebenarnya berkasiat, obat moderen atau alternatifnya," ungkap Tiara yang pernah merasakan sendiri bagaimana Lupus nyaris merenggut nyawanya.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Pasien Lupus Boleh Hamil Tapi Banyak Syaratnya

Jakarta, Pada dasarnya lupus bukan penyakit keturunan sehingga tidak ada larangan bagi pengidapnya untuk hamil dan punya anak. Hanya saja perlu banyak pertimbangan, sebab kehamilan merupakan kerja fisik yang berat dan butuh daya tahan tubuh yang baik.

Meski beberapa penelitian menyebutkan lupus atau Systemic Lupus Erythematosus juga dipengaruhi faktor genetik, tidak ada bukti kuat bahwa penyakit ini bisa diturunkan. Penyakit ini juga tidak menular sehingga tidak ada risiko bagi janin di dalam kandungan.

Meski begitu orang dengan lupus (odapus) tidak bisa sembarangan merencanakan kehamilan. Spesialis penyakit dalam dari Universitas Indonesia, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM mengatakan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan agar tidak membahayakan odapus dan kandungannya.

Pertimbangan utama untuk hamil adalah kondisi odapus secara umum harus terkontrol. Artinya dalam jangka waktu tertentu gejala-gejala lupus tidak muncul, kemudian hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar C3 dan C4 (komponen kekebalan tubuh) yang tidak terlalu rendah.

"Kriteria lain yang menunjukkan lupus dalam kondisi terkontrol adalah si pasien menggunakan obat dalam dosis minimal," ungkap Prof Zubairi dalam seminar "Lupus Update" di RS Kramat 128, Jakarta, Jumat (10/12/2010).

Pertimbangan berikutnya adalah risiko pengobatan terhadap janin. Odapus yang menginginkan kehamilan dilarang berhenti minum obat, sehingga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokternya agar bisa dipilihkan obat yang aman bagi janin.

Risiko yang ditanggung jika pengobatan dihentikan adalah kekambuhan yang tentunya berbahaya bagi janin maupun si odapus sendiri. Kehamilan merupakan kerja fisik yang berat sehingga bisa memicu stres, salah satu pemicu utama kekambuhan lupus.

Jika pertimbangan-pertimbangan itu sudah diperhitungkan, maka odapus aman untuk merencanakan kehamilan. Namun jika kadar C3 dan C4 rendah dan masih sering menunjukkan gejala lupus, maka odapus sangat tidak dianjurkan untuk hamil.

Seperti disampaikan dr Dyah A Waluyo dari Yayasan Lupus Indonesia, penyakit lupus dicirikan oleh minimal 4 dari beberapa gejala berikut ini:

  1. Sakit pada tulang/sendi
  2. Demam berkepanjangan/panas tinggi bukan karena infeksi
  3. Sering merasa cepat lelah
  4. Ruam di kulit
  5. Anemia (kurang darah)
  6. Gangguan ginjal (protein banyak terbuang lewat urin)
  7. Sakit di dada bila menghirup napas panjang
  8. Bercak merah pada wajah membentuk pola kupu-kupu (butterfly rash)
  9. Sensitif terhadap sinar matahari (fotosensitif)
  10. Rambut rontok
  11. Ujung jari pucat atau kebiruan
  12. Stroke
  13. Penurunan berat badan
  14. Sakit kepala
  15. Kejang
  16. Sariawan yang hilang timbul
  17. Keguguran.
Sumber : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
(Foto: thinkstock)

Ketekunan Tiara Melawan Lupus

Jakarta, Tiara Savitri tampak cantik dan langsing saat ini. Tak terbayangkan 14 tahun lalu tubuhnya bengkak hingga 110 kg dan kepalanya botak karena lupus. Namun bukan itu yang terburuk, melainkan vonis dokter yang mengatakan peluangnya untuk sembuh hanya 20 persen.

Kondisi ini merupakan puncak dari berbagai keluhan yang dialami Tiara sejak tahun 1987. Saat baru lulus dari SMA dan tengah berlaga di ajang pemilihan None Jakarta 1987, adik kandung aktor kawakan Donny Damara ini mulai mendapati ruam kemerahan di kulitnya yang diikuti nyeri sendi dan kerontokan pada rambutnya.

Kondisi ini terus memburuk hingga mencapai puncaknya pada tahun 1996, ketika rambutnya habis dan ginjalnya mengalami kebocoran. Akibatnya, cairan dari ginjal tumpah dan mengisi jaringan yang lain sehingga seluruh bagian tubuhnya mengalami pembengkakan.

Tiara yang ketika itu masih mahasiswa bagaikan berada di ujung tanduk ketika dokter mengatakan peluangnya untuk sembuh tinggal 20 persen. Kulitnya mulai mengelupas, bibirnya dipenuhi sariawan dan nyeri hebat ia rasakan pada
persendian di seluruh tubuhnya.

"Ada 3 hal yang menjadi kekuatan saya waktu itu. Pertama dukungan dari keluarga dan lingkungan, kedua keyakinan saya pada proses pengobatan dan yang terakhir memang saya orangnya bandel tidak mau kalah sama penyakit," ungkap Tiara saat ditemui di sela-sela seminar "Lupus Update" di RS Kramat 128, Jakarta, Jumat (10/12/2010).

Ketekunan Tiara dalam menjalani proses pengobatan, ditambah semangat hidup yang begitu tinggi akhirnya membuahkan hasil. Kondisinya berangsur membaik hingga pada tahun 2000 Tiara berhasil melahirkan anak laki-laki meski sebelumnya sempat beberapa kali mengalami keguguran.

Berkat sikap optimistis dan pikiran yang selalu positif, Tiara bisa mengontrol lupus yang merupakan penyakit kambuhan tersebut. Meski beberapa kali kambuh, ia tidak pernah panik apalagi stres karena ia tahu betul bahwa stres justru akan memperburuk kondisinya.

Bahkan ketika suaminya, Julio Hardison dipanggil Tuhan pada tahun 2001 akibat kanker hati, Tiara masih berusaha untuk berpikir positif. Ia menganggap kepergian sang suami sebagai skenario terbaik dari Yang Maha Kuasa agar hidupnya lebih berguna.

"Dalam bahasa yang main-main saya membayangkan Tuhan mengatakan demikian ketika mengambil suami saya 'Suamimu biar Saya (Tuhan) yang urus, kamu urus saja sesamamu' dan itu sangat membantu saya untuk berpikir positif," tambah Tiara yang kini benar-benar mengurus sesama odapus dengan menjabat Ketua Yayasan Lupus Indonesia.

Sumber : AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto : dok. Tiara Savitri