Tampilkan postingan dengan label KANGKER PAYUDARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KANGKER PAYUDARA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Cara Bantu Sahabat Berkanker Payudara



KANKER payudara adalah penyebab kematian pertama pada perempuan usia 15-54 tahun. Menurut data Komunitas Kanker Amerika, pada usia 40 tahun risiko seorang perempuan mengidap kanker payudara sebesar 1:68 dan di usia 50 tahun 1:37. Untuk itu, tentunya akan ada seorang ibu yang terkena penyakit tersebut.

Terlebih bila ia memiliki anak-anak yang masih kecil. Sulit pastinya menjalani hari dengan berjuang melawan kanker sembari harus tetap memperhatikan anak-anak. Bila Anda memiliki sahabat seperti itu, Anda bisa sangat membantunya dengan melakukan hal-hal berikut:

1. Jaga anaknya. Buatlah jadwal supaya Anda dapat membantu dengan menjaga anak-anaknya.

2. Berilah makanan sehat untuk keluarganya. Bekunjunglah ke rumah teman Anda dan bawalah makanan seperti camilan sehat sebagai buah tangan untuk seluruh anggota keluarga.

3. Anda juga bisa membantu secara finansial. Sisihkan uang Anda dan simpan di sebuah rekening yang dapat Anda gunakan jika sewaktu-waktu teman Anda membutuhkan dana dadakan.

4. Perlakukan teman Anda secara normal atau seperti biasanya saja. Jangan menelepon setiap hari untuk menanyakan bagaimana penyakitnya. Bincangkanlah topik seputar kegiatan sehari-hari, bukan tentang kanker.

5. Begitu pula dengan anak-anaknya, perlakukan seperti biasa. Ajak mereka bermain dan berikan mereka makanan kesukaannya.

6. Dengarkan pula bila anak-anak ingin berkata sesuatu tentang ibu mereka kepada Anda. Bila si anak mengutarakan ketakutannya, ajaklah ia melakukan kegitakan lain yang bisa mengalihkan rasa takutnya seperti dengan menggambar atau mengerjakan keterampilan yang membutuhkan konsentrasi.

Sumber : Media Indonsia.com
Foto : medicalera


Tips Jalani Pemeriksaan Kanker Payudara


BANYAK cara bagi perempuan untuk menghindari kanker payudara. Selain dari pola makan serta gaya hidup, ada baiknya kita juga menjalani pemeriksaan payudara secara rutin.

Terlebih, bila usia Anda melebihi 40 tahun, sebaiknya mulai ikutilah tes mammografi. Karena, kanker yang terdeteksi sejak awal memiliki kemungkinan besar untuk sembuh.

Mammografi adalah proses pemeriksaan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Mammografi digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista serta telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara.

Beberapa negara telah menyarankan mammografi rutin (1-5 tahun sekali) bagi perempuan yang telah melewati paruh baya sebagai metode screening untuk mendiagnosis kanker payudara sedini mungkin. Di bawah ini beberapa tips bagi Anda yang akan menjalani tes pemeriksaan payudara dengan mammografi:

1. Dalam menjalani mammogram, bila memungkinkan, pilihlah dokter yang memang memiliki spesialisasi dalam bidang mammografi. Banyak hasil studi yang menunjukkan bahwa dokter memiliki spesialisasi itu cenderung lebih akurat dalam menganalisis gambar sinar X kita.

2. Pilih jenis tes mammografi digital karena jenis ini lebih baik bagi parempuan berpayudara besar dan berusia di bawah 50 tahun. Selain itu, scanning secara digital lebih baik dalam mendeteksi sel kanker ketimbang mammografi konvensional.

3. Jangan abaikan pemeriksaan payudara dengan berbagai alasan. Mammografi tak akan menyebabkan sakit. Supaya mengurangi rasa tak nyaman, jadwalkan pemeriksaan setelah masa mestruasi Anda saat jaringan payudara tak lagi sensitif.

4. Jangan hindari pemeriksaan peyudara karena merasa takut. Sebagian besar keganjilan yang ditemukan setelah dilakukan mammografi bukanlah kanker. Namun, Anda mungkin juga akan dipanggil untuk menjalani tes lanjutan guna memastikan hasil tes yang masih diragukan.

5. Sadari sendiri bagaimana keadaan payudara Anda. Bila Anda merasa tak nyaman atau ada perubahan pada payudara seperti bengkak, iritasi, atau ada benjolan, segeralah bicarakan dengan dokter Anda.

6. Bila Anda memiliki garis keturunan dan ada anggota keluarga Anda, khususnya ibu atau saudara perempuan, yang menderita kanker payudara sebelum memasuki masa menopause, katakanlah pada dokter Anda. Karena, dengan garis keturunan itu, Anda lebih berisiko. Beberapa perempuan mungkin akan dianjurkan untuk menjalani MRI sebagai pelengkap mammografi.

Sumber : Media Indonesia.com
Foto : Periksa Payudara -- badbreath.com.au


Kamis, 28 Oktober 2010

5 Trik Tekan Risiko Kanker Payudara


SEIRING dengan pertambahan usia, risiko terkena kanker payudara pun semakin besar, terutama pada kaum hawa. Jangan langsung cemas, Anda bisa mengurangi risiko tersebut dengan cara mengubah beberapa hal simpel dalam gaya hidup Anda. Berikut beberapa di antaranya:

1. Tetap bergerak

Tak ada kata terlambat untuk berolahraga. Dengan menggerakkan tubuh, tingkat estrogen yang terhubung dengan kanker payudara pun berkurang. Cobalah untuk meluangkan waktu 45-60 menit untuk berolahraga setiap harinya. Bila tidak bisa, 30 menit selama 5 hari per minggu juga dapat membantu. Hasil sebuah studi yang telah dimuat dalam jurnal British Medical Journal menunjukkan bahwa perempuan yang telah mengalami menopause mendapatkan lebih banyak manfaat dari olahraga ketimbang perempuan lain.

2. Kurangi berat badan
Setelah mengalami menopause, perempuan yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko dua kali lipat lebih besar mengidap kanker payudara ketimbang perempuan berberat badan ideal. "Penambahan berat badan pada orang dewasa juga turut meningkatkan risiko terkena kanker payudara," kata Heather Spencer Feigelson, PhD, MPH, direktur epidemiologi pada ACS.

3. Mengasup vitamin D

Vitamin D ditengarai mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Kini, semakin banyak pula penelitian yang membuktikan kekuatan vitamin ini. Yang termutakhir, seperti dilaporkan oleh Komunitas Onkologi Klinis Amerika. Dikatakan, pasien kanker payudara yang kekurangan vitamin D sebanyak 94 persennya mengalami penyebaran kanker lebih cepat.

4. Kurangi alkohol

Ini tentunya merupakan alasan tambahan untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol. Menurut data dari Institut kanker Nasional, perempuan yang meminum alkohol 1-2 gelas perharinya mengalami peningkatan risiko janis kanker payudara paling umum sebanyak 32 persen. Adapun mereka yang meminum lebih dari jumlah itu risikonya lebih besar yakni 51 persen.

5. Tingkatkan kewaspadaan
Fakta terbaru mengenai kanker payudara, ketimbang menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit, lebih baik kita melakukan pemeriksaaan payudara sendiri. Menurut hasil sebuah penelitian, sebesar 15 persen kasus kanker payudara terdeteksi oleh di pasien sendiri. Maka itu, ada baiknya bila kita secara rutin memeriksa sendiri payudara. Dan bila merasa ada yang tidak beres, segeralah kunjungi dokter guna pemeriksaan lebih lanjut.

Sumber : Media Indonesia.com - Penulis : prita daneswari
Foto : media.rd.com

Kamis, 21 Oktober 2010

Kedelai Cegah Kekambuhan Kanker Payudara


Pola makan yang tinggi kandungan kedelai, yakni isoflavon, diduga mengurangi risiko kekambuhan kanker payudara terutama pada para penyintas (survivor) kanker payudara.

Para ahli menemukan para survivor kanker payudara yang sudah memasuki menopause dan rutin mengonsumsi isoflavon dari kedelai, sekitar 42,3 miligram per hari, memiliki risiko kekambuhan kanker lebih rendah dibanding mereka yang mengonsumsi kedelai dalam porsi lebih kecil, yakni 15,2 mg per hari.

Kaitan antara komponen kedelai dan kanker payudara memang belum jelas, namun para peneliti meyakini isoflavon memengaruhi kadar estrogen dalam tubuh. Namun penelitian lain menunjukkan efek yang bertolak belakang, isoflavon justru meningkatkan risiko kanker payudara.

Menurut data National Cancer Institute, Amerika, lebih dari 12 persen wanita yang lahir saat ini akan didiagnosa kanker payudara dalam hidupnya. Para ahli menduga hal itu salah satunya dipengaruhi oleh pola makan.

Orang Amerika jarang mengonsumsi kedelai. Baru 37 persen saja yang mengonsumsi makanan atau minuman kedelai beberapa kali dalam sebulan. Sementara itu di Asia, protein yang berasal dari kedelai menjadi menu makanan sehari-hari.

Selama beberapa tahun para ahli terus mengeksplorasi manfaat kedelai bagi kesehatan, khususnya penyakit kanker. Penelitian sebelumnya menunjukan isoflavon dari kedelai, yakni genistein, mampu menghambat efek tamoxifen (obat terapi sulih hormon pada wanita menopause) dan meningkatkan pertumbuhan resepstor positif estrogen.

Sumber : Detiksport

Selasa, 12 Oktober 2010

Adakah Kaitan Kanker Payudara dan Kebiasaan Pakai Bra Kawat?

New York, Wanita banyak yang menggunakan bra kawat karena bisa menyangga payudara lebih kuat. Namun belakangan muncul kekhawatiran penggunaan bra kawat tiap hari bisa menghalangi aliran kelenjar getah bening yang memicu kanker payudara.

"Jawaban singkatnya adalah tidak dan mitos tersebut tidak benar," ujar Dr Ted Gansler, direktur medis untuk American Cancer Society, seperti dikutip dari New York Times, Kamis (18/2/2010).

Banyak yang percaya bra kawat bisa menekan sistem kelenjar getah bening payudara yang mengakibatkan akumulasi racun di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan kanker payudara.

"Tidak ada bukti terpercaya yang dimuat dalam jurnal ilmiah yang menunjukkan penggunaan bra mencegah keluarnya racun dengan menghalangi aliran kelenjar getah bening. Hal ini tidak sesuai dengan konsep ilmiah mengenai bagaimana kanker payudara berkembang," ujar Dr Gansler.

Dr Gansler dan tim membandingkan data National Cancer Institute terhadap risiko kanker payudara pada perempuan yang dirawat akibat melanoma (kanker kulit) yang telah dihapus beberapa kelenjar getah bening di ketiaknya dengan perempuan yang tidak. Operasi yang dilakukan untuk menghambat drainase getah bening dari jaringan payudara.

Hasilnya didapatkan tidak ada angka peningkatan kanker payudara pada perempuan yang melakukan operasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan pengunaan bra kawat yang diduga dapat menekan sistem getah bening dan menyebabkan kanker payudara tidaklah benar.

Fakta lain menunjukkan tidak adanya penurunan diagnosa kanker payudara di tahun 1960-an, karena pada tahun tersebut sebagian besar kaum perempuan pergi tanpa menggunakan bra jadi seharusnya kejadian kanker payudara menurun tapi yang terjadi tidak demikian.

Fakta yang didapat tak ada kaitannya antara menggunakan bra dengan kanker payudara, tapi pola hidup dan pola makanlah yang lebih banyak menjadi penyebab
seseorang terdiagnosis kanker payudara.

Sumber : DetikHealth
Foto : tipsmemperbesarpayudara.com

Demi Payudara Sehat, Jangan Pakai Bra 24 Jam

Jakarta, Beberapa wanita percaya menyangga payudara secara terus menerus bisa menghindari payudara turun. Namun kebiasaan itu ternyata bisa memicu peningkatan suhu tubuh sekitar payudara yang lama-lama berisiko terkena kanker.

Dua ilmuwan Sydney Singer dan istrinya Soma Grismaijer pada tahun 1991 melakukan penelitian mengenai berapa lama waktu yang ideal untuk memakai penutup dada wanita atau bra?

Jawabannya ternyata kurang dari 12 jam. Wanita yang ingin menghindari kanker payudara harus memakai bra dalam waktu sesingkat mungkin, dan sebaiknya kurang dari 12 jam per hari.

Singer dan Grismaijer mempelajari kebiasaan memakai bra 4.500 wanita di lima kota di seluruh Amerika Serikat. Hasil studinya telah dipublikasikan dalam sebuah buku Dressed To Kill: The Link Between Breast Cancer and Bras.

Hasil studi menunjukkan wanita yang memakai bra selama 24 jam sehari berisiko paling tinggi terkena kanker payudara. Sedangkan wanita yang jarang memakai bra paling sedikit risikonya.

Perbandingan hasil studi tersebut menunjukkan:
  1. 3 dari 4 wanita yang memakai bra 24 jam per hari
  2. 1 dari 7 wanita yang memakai bra lebih dari 12 jam per hari, tetapi tidak menggunakannya saat tidur
  3. 1 dari 152 wanita yang memakai bra kurang dari 12 jam per hari
  4. 1 dari 168 wanita yang jarang atau bahkan yang tidak pernah memakai bra sama sekali

Jadi risiko wanita yang memakai bra selama 24 jam memiliki 125 kali lipat risiko terkena kanker payudara dibanding yang jarang memakai bra.

Waktu yang paling tepat untuk mengistirahatkan payudara dengan tanpa memakai bra adalah saat tidur. "Jangan tidur dengan bra," kata Sydney Singer, seperti dilansir dari chetday, Jumat (23/4/2010).

Memijat payudara disertai menarik napas panjang setiap kali melepas bra dapat memperlancar aliran getah bening dan mencegah berkembangnya kanker pada payudara.

Sistem limfatik pada payudara hanya berkembang sepenuhnya selama kehamilan dan menyusui, sehingga wanita yang memakai bra sehari-hari, menunda memiliki anak dan yang tidak menyusui dapat terkena risiko kanker payudara lebih tinggi.

Sekitar 75 persen wanita yang terkena kanker payudara sebenarnya tidak memiliki faktor risiko kanker. Hal ini memunculkan dugaan bahwa penggunaan bra yang tidak pas atau terus-terusan memakai bra merupakan faktor yang dapat menjelaskan hal tersebut.

Ukuran bra yang tidak tepat atau terlalu ketat dapat membantu pertumbuhan kanker di payudara. Karena bra yang salah dapat menghambat penetralan bahan kimia berbahaya dalam tubuh yang menyebabkan kanker. Dan sekitar 80 persen wanita menggunakan bra yang salah.

Alasan utama mengapa bra yang ketat dapat membahayakan kesehatan adalah karena bisa membatasi aliran getah bening di payudara. Normalnya, cairan getah bening mencuci bahan limbah dan racun lain, serta menjauhkannya dari payudara.

Menggunakan bra terlalu lama juga meningkatkan suhu jaringan payudara, dan wanita yang memakai bra memiliki kadar hormon prolaktin (hormon yang berfungsi merangsang kelenjar air susu) yang lebih tinggi. Kedua hal ini dapat mempengaruhi pembentukan kanker payudara.

Sumber : DetikHealth
Foto : dannyprijadi.wordpress.com

Akupuntur Kurangi Efek Pengobatan Kanker Payudara


Detroit, Penanganan medis pasien kanker payudara sering menimbulkan gejala tidak nyaman bagi wanita seperti kepanasan, nafsu seks berkurang dan gelisah. Namun dengan akupuntur, semua itu bisa diatasi.

Sebuah studi sebelumnya memang pernah menyebutkan bahwa akupuntur bisa menangani gejala-gejala menopause yang hampir sama dengan gejala wanita dengan kanker payudara tersebut.

Umumnya wanita yang mengidap kanker payudara mendapatkan terapi hormon anti estrogen selama 5 tahun. Terapi tersebut sebenarnya cukup efektif untuk mengurangi dan mencegah pertumbuhan tumor, tapi efek sampingnya adalah pasien akan merasa kepanasan dan berkeringat terus menerus.

Untuk itu digunakanlah obat anti depresi Effexor (Venlafaxine) untuk mengatasinya, tapi penggunaan obat ini tetap saja membawa masalah yaitu mulut kering, nafsu makan berkurang, mual dan muntah serta konstipasi.

"Untuk itu dibutuhkan teknik baru yang tidak menimbulkan efek samping dan pilihan terbaiknya adalah akupuntur," kata onkolog Dr Eleanor Walker dari Henry Ford Hospital, Detroit seperti dikutip dari Healthday, Kamis (31/12/2009).

Sebanyak 50 wanita dipilih secara acak untuk mendapatkan terapi akupuntur selama 12 minggu (dua kali seminggu). Partisipan yang mengonsumsi Effexor setiap hari digunakan sebagai pembanding.

Dua minggu setelah partisipan mengonsumsi Effexor, mereka mulai mengalami gejala hot flashes (badan merasa kepanasan terus) sementara mereka yang mendapat terapi akupuntur tidak bermasalah. Bahkan 25 persen diantaranya mengaku lebih tertarik dengan seks, lebih berenergi dan bisa berpikir jernih.

Mengapa akupuntur bisa lebih baik daripada obat? "Akupuntur bekerja sebagai regulator sistem endokrin yang akan menyeimbangkan aktivitas hormon, neurotransmiter dan semua reaksi biokimia dalam tubuh tanpa memasukkan unsur apapun dari luar," jelas Walker.

Namun studi lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa sering akupuntur dibutuhkan untuk menghilangkan gejala-gejala tersebut.

Sumber : DetikHealth
Foto : topnews

Pilih Tak Punya Payudara Ketimbang Kena Kanker

Kakak beradik asal Birmingham menjalani pengangkatan payudara setelah ibu dan 3 kerabat lainnya meninggal karena kanker payudara.

Alison Carby (25) dan Franscesca (22) berada dalam kondisi sehat ketika payudaranya diangkat. Prosedur itu dilakukan sebagai langkah pencegahan, sebelum payudaranya yang memang berisiko tinggi itu terserang oleh kanker.

Kakak beradik ini mengambil keputusan untuk melakukan operasi radikal tersebut karena mempunyai riwayat kanker payudara di keluarganya. Ibu, nenek dan 2 saudara perempuan sang nenek telah meninggal sebelumnya karena penyakit
tersebut.

Hasil tes 2 tahun lalu juga menunjukkan bahwa secara genetik kedua kakak beradik itu berisiko tinggi untuk terkena kanker. Alison dan Francesca memiliki gen BRCA2 yang meningkatkan risiko terkena kanker hingga 85 persen, meski kakak mereka, Selina (31) tidak memiliki gen serupa.

Ibunya, Angela didiagnosis mengidap kanker di bagian payudara pada tahun 2002. Angela akhirnya meninggal di usia 50 tahun pada Maret 2009, tak lama setelah payudara Alison diangkat dan direkonstruksi pada bulan Oktober 2008.

Operasi pengangkatan payudara untuk Francesca baru dilakukan 3 bulan kemudian atau Januari 2010. Ia mengaku butuh waktu lebih lama untuk mempertimbangkan operasi tersebut, karena ingin mengamati dulu perkembangan pada adiknya.

"Ibu mengatakan keputusan saya ini sangat berani. Bagi saya ini bukan soal keberanian. Seperti undian, jika saya punya 85 persen kemungkinan untuk menang maka saya akan ambil peluang itu," ungkap Alison seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (2/9/2010).

Sementara itu, sebuah penelitian di Northwestern University baru-baru ini membuktikan bahwa pengangkatan payudara dan indung telur merupakan pencegahan paling efektif terhadap risiko kanker bagi yang berisiko tinggi. Bukan hanya mengurangi, peneliti mengklaim tindakan ini bahkan mampu mengeliminasi risiko kanker di bagian tersebut.

Penelitian ini melibatkan 2.482 perempuan yang memiliki kelainan pada gen BRCA1 dan BRCA2. Kelainan pada gen tersebut secara signifikan dapat meningkatkan risiko kanker payudara dan indung telur.

Dikutip dari ninemsn, Kamis (2/9/2010), kelompok partisipan yang menjalani pengangkatan payudara atau indung telur tidak terkena kanker hingga 3 tahun sesudahnya. Sedangkan partisipan yang tidak menjalani operasi maka dalam 3 tahun kanker mulai menggerogoti hingga 7 persen.

Penelitian ini bukan hanya menunjukkan perlunya pengangkatan pada perempuan berisiko tinggi, melainkan juga pemeriksaan genetik sejak dini. Jika punya kerabat yang pernah menderita kanker, maka sebaiknya tes genetik harus dilakukan agar risiko yang sama bisa terdeteksi sedini mungkin.

Sumber ; DetikHealth
Foto : Alison & Franscesca (dailymail)

Wanita Afrika Paling Rentan Kena Kanker Payudara Ganas

Ann Arbor, Dibandingkan ras lainnya, wanita Afrika sebenarnya lebih jarang terserang kanker payudara. Namun ras ini lebih rentan terhadap salah satu tipe paling ganas dari kanker tersebut karena faktor genetis.

Tipe kanker yang dimaksud adalah kanker payudara tripel negatif, yang dalam pengujian memberikan hasil negatif pada 3 penanda spesifik. Ketiga penanda yang dimaksud adalah reseptor estrogen, reseptor progesteron dan HER-2/neu.

Berdasarkan sebuah penelitian di University of Michigan, tipe ini ditemukan pada 82 persen wanita penderita kanker payudara di Afrika. Jauh lebih tinggi dibandingkan pada wanita Amerika kulit putih yang hanya 16 persen dan wanita Afro-Amerika 26 persen.

Dalam penelitian tersebut, partisipan yang terlibat terdiri dari 581 penderita kanker payudara Afrika dan 1.008 wanita kulit putih di Henry Ford Health System di Detroit. Selain itu, peneliti juga mengamati 75 pasien wanita di sebuah rumah sakit di Ghana.

Jika penelitian sebelumnya mengatakan bahwa wanita Afrika lebih jarang terserang kanker payudara, maka temuan ini cukup mengejutkan. Sebab di antara yang terdiagnosis, bila dibandingkan dengan ras lainnya maka penderita kanker payudara asal Afrika cenderung mengalaminya pada usia lebih muda dan dengan jenis tumor yang lebih ganas.

Dikutip dari Sciencedaily, Jumat (23/7/2010), peneliti mendapati bahwa sebagian besar pasien yang diamati di Ghana mengidap kanker payudara tripel negatif. Tipe ini sering dikaitkan dengan kelainan genetik yang menyebabkan mutasi pada gen BRCA1.

"Nenek moyang bangsa Afrika mungkin mewariskan gen yang menyebabkan para wanita lebih rentan pada jenis kanker tertentu. Kami berharap bisa mengembangkan penanda biologis yang berguna untuk menilai faktor risiko kanker payudara tripel negatif," ungkap Newman, salah satu penliti yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Sebelumnya, berbagai penelitian telah banyak mengaitkan risiko kanker payudara dengan faktor genetis. Wanita dari etnis Yahudi Ashkenazi misalnya, termasuk salah satu etnis yang mewarisi risiko lebih tinggi terhadap kanker payudara.

Sumber : Detikhealth
foto : 2.bp.blogspot.com

Makan Banyak Lemak Saat Puber Berisiko Kena Kanker Payudara

Michigan, Pubertas merupakan masa transisi dari tubuh manusia, yang meliputi transisi organ dan juga hormon. Makan makanan kaya lemak saat pubertas ternyata berisiko tinggi kena kanker payudara.

Temuan itu berasal dari riset di Michigan State University's Breast Cancer and the Environment Research Center.

"Periode waktu pubertas sangat penting, karena pada saat ini kerangka dasar dibuat untuk pengembangan kelenjar susu," ujar Profesor Sandra Haslam, direktur pusat penelitian, seperti dilansir dari Medindia, Kamis (2/8/2010).

Menurut Prof Haslam, dari penelitian diketahui bahwa diet tinggi lemak selama masa pubertas dapat menyebabkan produksi produk peradangan di kelenjar susu orang dewasa, yang dapat meningkatkan pertumbuhan kanker.

Penelitian ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa hormon progesteron mengaktifkan gen yang memicu peradangan di kelenjar susu. Dan peradangan bisa menjadi faktor kunci dalam meningkatkan risiko kanker payudara.

Peneliti menemukan bahwa makan makanan tinggi lemak selama pubertas menghasilkan efek yang sama dengan penelitian progesteron sebelumnya.

"Makanan tinggi lemak saat pubertas juga dapat menyebabkan peradangan kelenjar susu," jelas Richard Schwartz, profesor mikrologi dan dekan di College of Natural Science.

Karena perubahan peradangan pertama terjadi pada saat penting, yaitu pubertas, maka masa pembangunan intensif dan pembelahan sel dapat memiliki dampak yang langgeng seumur hidup.

Untuk menguji temuan ini, Haslam dan Schwartz akan memimpin tim untuk menganalisa dua model berbeda dari kanker payudara dan efek dari diet tinggi lemak selama masa pubertas. Tim ini juga akan menguji beberapa intervensi anti-inflamasi yang dirancang untuk mengatasi dampak negatif dari makanan tinggi lemak pada peradangan.

Sumber : DetikHealth
Foto : squeelink.wordpress.com

Senin, 11 Oktober 2010

Kanker Lebih Mudah Kumat pada Payudara yang Padat


Oakland, Kepadatan jaringan payudara ternyata berhubungan dengan risiko kekambuhan pada kanker payudara. Semakin padat, semakin harus diwaspadai kemungkinan kanker tumbuh kembali pada payudara yang sama maupun sebelahnya.

Peluang kekambuhan kanker pada payudara yang memiliki jaringan lebih padat mencapai 2 kali lipat dibandingkan yang kurang padat. Bahkan risikonya 3 kali lipat lebih besar bagi kanker tersebut untuk menyerang payudara yang sebelahnya.

Kesimpulan ini diungkap oleh para ahli dari Kaiser Permanente di Oakland, California. Jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention memuatnya pada edisi 7 Oktober 2010.

Dari 935 wanita yang menderita jenis kanker ductal carcinoma in situ (DCIS), 164 di antaranya mengalami kekambuhan pada payudara yang sama. Sementara itu, 59 wanita mengalami kekambuhan pada payudara yang satunya lagi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, para wanita yang mengalami kekambuhan itu memiliki jaringan payudara yang relatif lebih padat dibanding yang lain. Dalam pengamatan dengan mammogram, jaringan payudara yang lebih padat tampak berwarna putih.

"Kepadatan jaringan payudara merupakan salah satu faktor risiko paling kuat setelah riwayat keluarga," ungkap Laurel A. Habel, PhD dari Kaiser Permanente seperti dikutip dari Medicinenet, Senin (11/10/2010).

Secara pasti, hubungan antara kepadatan payudara dengan risiko kekambuhan memang belum diketahui. Namun diduga, hal itu dipengaruhi oleh kondisi hormonal yang memungkinkan kanker lebih mudah tumbuh.

Senada dengan hasil penelitian itu, National Cancer Institute mengimbau wanita yang memiliki payudara dengan kepadatan tinggi untuk lebih sering memeriksakan diri. Faktor ini masih sering diabaikan para dokter dalam pemeriksaan kanker payudara.

Sumber : Detikhealth
Foto : akanggalih.wordpress.com



Infeksi Payudara


Deskripsi
Penyakit
ini biasanya menyerang ibu-ibu yang sedang menyusui. Penyebabnya adalah bakteri yang masuk ke dalam susu melalui luka pada puting susu. Mulut bayi yang mungkin kotor dan membawa bakteri tersebut masuk dalam kulit payudara dan menyebabkan infeksi. Infeksi ini jika tidak dikeluarkan akan menimbulkan nanah dalam payudara.

Gejala
Jika sudah terinfeksi� biasanya akan membuat nyeri pada payudara, benjolan pada payudara, pembengkakan, dan keluar nanah dari puting susu.

Pengobatan
Infeksi ini bisa disembuhkan dengan mengompres payudara selama 15-20 menit, 4 kali sehari dengan air hangat. Selain itu dengan mengonsumsi antibiotok untuk mencegah pembengkakan semakin besar. Apabila keluar nanah, tidak diperkenankan untuk menyusui si bayi.

Untuk mencegah hal itu tidak terjadi, disarankan untuk menyusui dengan teknik yang benar, menyusui secara bergantian, dan menjaga kebersihan puting susu.

Sumber : Detikhealth
Foto : m.kompas.com


Minggu, 10 Oktober 2010

Lebih Akurat Deteksi Kanker Payudara


Cara deteksi kanker payudara bukan hanya mamografi, tetapi masih ada beberapa cara lain. Yuk, cari tahu banyak cara mendeteksi kesehatan payudara sejak dini!


Periksa sendiri

Hal yang  paling mudah dilakukan adalah "sadari" atau pemeriksaan payudara sendiri. dr. Sutjipto, Sp.B(K) Onk., spesialis bedah onkologi dari Siloam Hospital, menganjurkan bagi remaja putri, sejak menginjak usia 20 tahun melakukan "sadari" secara rutin. Ini bisa dilakukan setiap kali setelah mandi dan di luar masa menstruasi.

Caranya, berdiri di depan kaca, tangan kanan memeriksa payudara kiri dan demikian pula sebaliknya. Lakukan pemeriksaan dengan meraba memutar telapak tangan seiring jarum jam dan sebaliknya berulang kali. Pastikan, tidak ada benjolan atau gronjolan  di dalam payudara.

USG payudara


Adapun bagi para perempuan yang telah menginjak usia 30 tahun, lakukan USG payudara atau breast ultrasound. Caranya mirip dengan USG kandungan.
Pertama-tama, pasien diminta berbaring di atas tempat tidur kemudian bagian payudara diberikan gel.  Lalu petugas medis akan menjalankan transduser ke seputar payudara untuk mendapatkan gambaran adanya tumor ataupun kista di dalam payudara.

Mamografi tak lagi menyakitkan


Ketika memasuki usia 40 tahun, Sutjipto menganjurkan untuk melakukan kombinasi kedua cara deteksi (USG dan "sadari") dengan mamografi. Mamografi sebaiknya dilakukan 3 tahun sekali untuk pasien berusia 40-45 tahun. Namun, khusus bagi yang berisiko tinggi, seperti, gemuk, belum punya anak, dan ada riwayat kanker dalam keluarga, mamografi bisa dilakukan setiap 2 tahun sekali.

Adapun ketika memasuki usia 50 tahun, mamografi bisa dilakukan 2-3 tahun sekali. Begitu pula ketika wanita telah berusia di atas 60 tahun, mamografi dilakukan sekitar 1-2 tahun sekali.

Tidak perlu takut dengan mamografi karena alat mamografi yang sekarang sudah cukup terkomputerisasi. Sistem komputerisasi ini memungkinkan penekanan secukupnya untuk mendapatkan gambaran akurat kondisi kelenjar susu.
“Jadi, tidak perlu takut sakit ataupun akan memicu kanker lebih ganas,” ungkap Sutjipto meluruskan anggapan yang salah di masyarakat.

Cara melakukan mamografi ini seperti rontgen dada. Pertama-tama, pasien diminta melepaskan berbagai aksesori logam dan pakaian serta hanya menggunakan pakaian khusus mamografi.

Untuk posisi saat melakukan mamografi, bisa dengan duduk ataupun berdiri bergantung pada peralatan yang digunakan. Kemudian salah satu payudara diletakkan di atas pelat datar dan di bagian atas ada semacam plastik yang menekan payudara ke bawah untuk meratakan. Cara ini dimaksudkan untuk memperlihatkan jaringan payudara yang akan disinar-X.

Foto-foto kelenjar payudara ini akan diambil dari berbagai sudut untuk memperoleh akurasi yang optimum. Pada mesin mamografi jenis Full Field Digital Mammography   (FFDM) yang bekerja secara digital, gambar sinar-X yang didapat dapat dimanipulasi di layar komputer sehingga meningkatkan akurasi hasil foto sinar-X.

MRI lebih detail

Bila setelah dilakukan USG dan mamografi ditemukan kejanggalan, penyelidikan dilanjutkan dengan melakukan MRI (magnetic resonace imaging) terhadap payudara. Metode ini juga merupakan alternatif deteksi kanker payudara bagi perempuan di atas 40 tahun ataupun yang tidak menyukai mamografi.

Tentu saja, diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk melakukannya. Caranya, pasien disuntikkan agen kontras atau semacam cairan yang akan mengeluarkan warna. Kemudian pasien dimasukkan ke dalam lorong dan ditembakkan daya magnet  yang akan menghasilkan warna tertentu pada jaringan yang telah diinjeksi agen kontras.

Pada akhirnya akan didapat gambaran struktur, bentuk dan komposisi payudara secara lebih detail bahkan bisa menangkap adanya sel yang sudah mengarah menuju kanker.

Termografi payudara

Pilihan lain pelengkap cara mendeteksi kanker payudara adalah dengan breast  thermography. Berdasarkan penelitian klinis, bila dilakukan bersama dengan mamografi, sensitivitasnya akan meningkat hingga 98 persen.

Dikatakan, termografi ini relatif aman karena tidak menimbulkan radiasi, tanpa injeksi ataupun penekanan apa pun. Dengan memanfaatkan digital infra-red thermal imaging, akan didapat pola panas normal dan tak normal yang dihasilkan oleh adanya sel kanker.

Caranya, pasien cukup berdiri di depan alat termografi. Kemudian petugas akan merekam pola panas payudara. Bila terdapat warna merah (tanda suhu tinggi tak normal), maka terdapat  aktivitas sel tumor.

Sumber : Kompas.com
Foto : shutterstock



Perempuan Jarang Periksa Payudara

HAMPIR sekitar 50 persen perempuan ternyata belum pernah melakukan pemeriksaan payudara. Satu di antara empat partisipan mengaku mereka lupa untuk mengeceknya. Jumlah itu didapat dari hasil sebuah survei yang diadakan kelompok Breakthrough Breast Cancer.

Sebanyak 13 persen menilai bahwa hal itu tidaklah penting, 18 persen menyatakan mereka tak sadar akan pentingnya memeriksa payudara, dan 15 persen mengutarakan mereka merasa takut apabila memang ada sesuatu yang tak beres dengan payudara mereka.

Survei yang dilakukan terhadap 1.000 perempuan Amerika Serikat itu juga mengungkap bahwa sebanyak 53 persen partisipan mengaku tak tahu bahwa minuman beralkohol dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan hampir separuhnya tak mengetahui bahwa penambahan berat badan atau kelebihan berat badan juga akan membuat mereka lebih rentan akan kanker payudara.

"Sangat jelas, hasil ini memperlihatkan bahwa perlu adanya usaha yang lebih banyak untuk membuat para perempuan untuk waspada terhadap kanker payudara, " kata Dr Sarah Rawlings, ketua Breakthrough Breast Cancer, seperti dikutip oleh The Daily Mail.

Sumber : Media Indonesia
foto : sendayu-tinggi.com

Kanker Lebih Agresif di Usia Muda


KALAU Anda masih muda dan mengidap kanker payudara, ada baiknya berobat dengan lebih intensif. Walaupun sudah menunjukkan tanda kesembuhan, jangan lupa untuk terus melakukan pemeriksaan dan pengobatan hingga selesai. Pasalnya, sebuah penelitian menunjukkan, perempuan pengidap kanker payudara yang berusia di bawah 35 tahun lebih rentan untuk mengalami kanker kembali setelah pengobatan dibandingkan perempuan dengan usia yang lebih tua.

Berdasarkan studi, hal ini disebabkan oleh jenis pengobatan (treatment) yang diterima oleh pasien kanker payudara usia muda. Menurut peneliti, kemungkinan kanker kambuh lebih kecil pada perempuan yang menerima pengobatan mastektomi dan radiasi dibandingkan pasien yang hanya menerima satu pengobatan, mastektomi atau terapi pemeliharaan payudara saja.

Penemuan ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian terhadap 652 pasien pengidap kanker payudara di University of Texas M. D. Anderson Cancer Center, selama lebih dari 30 tahun. Pasien berusia 35 tahun atau lebih muda. 197 dari pasien menerima terapi pemeliharaan payudara, 237 pasien menerima mastektomi, dan 234 pasien melakukan mastektomi dan radiasi.

Secara keseluruhan, terang peneliti, angka kemungkinan kambuh kembali berbeda pada ketiga kelompok. Angka kemungkinan kambuh pada pasien yang melakukan mastektomi dan radiasi lebih kecil (15.1%) dibandingkan dengan pasien yang hanya melakukan terapi pemeliharaan payudara (19.8%) dan pasien yang hanya melakukan mastektomi saja (24.1%).

Pasien dengan kanker tahap awal (stadium I) juga mendapatkan hasil sama dengan terapi pemeliharaan payudara dan mastektomi. Tetapi, terang peneliti, penambahan kemoterapi akan lebih menguntungkan."Sedangkan pasien dengan kanker stadium II menerima kontrol terbaik dengan melakukan terapi mastektomi ditambah radiasi," tulis para peneliti di International Journal of Radiation Oncology, Biology, and Physics, seperti yang dikutip oleh foxnews.com

"Kekambuhan kanker payudara setelah melakukan pengobatan optimal masih menjadi masalah utama," terang pemimpin studi Dr. Beth M. Beadle dari Universitas Texas.

Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan, hasil pengobatan kanker payudara pada pasien yang lebih muda selalu lebih buruk dibandingkan mereka yang mengidap kanker payudara di usia yang lebih tua.

Walaupun alasannya belum jelas, para ahli menduga hal ini disebabkan karena kanker pada perempuan muda lebih agresif. "Semoga studi kami bisa membantu para pakar terapi onkologi untuk merencanakan terapi terbaik pada pasien kanker payudara yang berusia lebih muda," terang Beadle.

Sumber : Media Indonesia
Foto : gigisehatbadansehat.blogspot.com

Vaksin Kanker Payudara Belum Siap Diluncurkan


KEMUNGKINAN penggunaan vaksin kanker payudara pada manusia kini semakin tinggi, terlebih dengan adanya penelitian yang dilakukan terhadap tikus oleh para peneliti di Cleveland Clinic.

Para peneliti tersebut mengatakan uji coba vaksinasi tunggal dengan antigen alpha-laktoalbumin pada tikus menunjukkan hasil yang sangat baik. Terlihat, antigen itu dapat mencegah pembentukan kanker dan menghentikan pertumbuhan tumor. "Jika hal itu dapat terjadi pada manusia seperti halnya tikus, ini akan sangat monumental," kata ketua penelitian tersebut, ahli imunologi Vincent Tuohy, Minggu (30/5).

Uji coba vaksin ini terhadap manusia akan dimulai tahun depan. Jika berhasil, vaksin ini akan diaplikasikan kepada para perempuan berusia di atas 40 tahun, umur yang paling berisiko terkena kanker payudara.

"Frekuensi perempuan yang menyusui di awal usia 40-an sangatlah rendah. Maka kami akan menyasar perempuan usia tersebut guna mencegah mereka terkena kanker payudara," kata Tuohy.

Untuk perempuan muda yang berisiko besar terkena penyakit itu, vaksin itu dapat menjadi pilihan substitusional selain metode pengobatan mastektomi profilaksis.

Penelitian Tuohy akan dipublikasikan secara daring di Nature.com dan di Jurnal Nature Medicine pada 10 Juni.

Sumber : Media Indonesia
Foto :  cosmeticcompare.com

Perempuan Kurus Berisiko Kanker Payudara


ANAK perempuan kurus cenderung menderita kanker payudara di usia selanjutnya. Peneliti menemukan, perempuan yang kekurangan berat badan di usia tujuh tahun berisiko lebih besar menderita penyakit ini di usia tua dibandingkan perempuan dengan ukuran lebih besar.

Peneliti dari Karolinska Institute di Stockholm mengungkap, perempuan yang sedikit kelebihan berat badan di usia muda berisiko lebih kecil mengalami tipe tumor agresif yang sangat sulit diatasi. Menurut peneliti, temuan ini, bisa merintis jalan untuk menggunakan foto di masa anak-anak sebagai salah satu cara dalam memperhitungkan risiko kanker payudara perempuan.

Dalam studi yang dipublikasikan di The Breast Cancer Research journal, Kamis (15/4), ini, peneliti mempelajari 6.000 perempuan di Swedia. Lima puluh persen dari partisipan tersebut adalah pasien kanker payudara. Peneliti membagi partisipan ke dalam tiga kelompok berdasarkan kategori apakah badan mereka 'kurus', 'berukuran sedang' atau 'besar' saat berusia tujuh tahun. Partisipan menggunakan foto-foto dan memori mereka sebagai dasar.

Peneliti menemukan, perempuan yang lebih besar di usia muda berisiko lebih kecil menderita kanker payudara saat memasuki masa menopause.

Di sisi lain, penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa perempuan yang obesitas jauh lebih berisiko menderita kanker payudara. Selain itu, mereka juga bersiko 50 persen lebih besar meninggal akibat penyakit tersebut.

Peneliti menyatakan belum tahu mengapa anak perempuan kurus lebih berisiko menderita kanker payudara. Tapi temuan ini, terang peneliti, mempunyai implikasi penting dalam menentukan risiko perempuan.

"Temuan ini kelihatannya berlawanan, karena berat badan lahir besar dan indeks massa tubuh tinggi pada orang dewasa justru ditemukan meningkatkan risiko kanker payudara," terang pemimpin studi Jingmei Li, seperti dikutip situs dailymail.co.uk."Mekanisme perlindungan di balik badan kurus di masa anak-anak ini masih belum terjawab."

Studi ini juga menemukan bahwa anak perempuan dengan badan yang lebih besar berisiko lebih kecil mengalami tumor estrogen reseptor negatif, salah satu bentuk penyakit yang paling mematikan.

Kanker payudara merupakan bentuk kanker yang paling umum dijumpai pada perempuan. Berdasarkan perkiraan, terang Li, satu dari sembilan perempuan akan mendapatkan penyakit ini dalam rentang kehidupan mereka.

Sumber : Media Indonesia
Foto : gracenglamour.com

Polusi Bisa Picu Kanker Payudara

POLUSI yang disebabkan lalu lintas dapat menggandakan risiko perempuan mengidap kanker payudara. Risiko itu bahkan lebih besar di area yang tingkat nitrogendioksida terbilang tinggi, menurut studi terbaru oleh peneliti Kanada.

Mark Goldberg, peneliti dari Institut Penelitian Pusat Kesehatan Universitas McGill mengatakan, "Kami telah memantau adanya peningkatan kasus kanker payudara akhir-akhir ini. Tak diketahui apa penyebabnya dan hanya sepertiga kasus diketahui disebabkan faktor-faktor risiko yang umum. Maka itulah, karena belum ada yang menganalisis kaitan antara polusi udara dan kanker payudara menggunakan peta polusi yang terinci,kami pun memutuskan untuk menelitinya."

Goldberg mengakui timnya menemukan kaitan antara kanker payudara pascamenopause dan paparan nitogen dioksida yang berasal dari polusi udara akibat padatnya lalu lintas.

"Di Montreal, level nitrogendioksida bervariasi. Kami menemukan risiko itu meningkat hingga 25 persen setiap kenaikannya sebesar 5 per 1 miliar," ujatnya. Dengan kata lain, perempuan yang tinggal di area yang level polusinya tinggi berisiko dua kali lipat mengidap kanker payudara daripada area yang bersih dari polusi. Goldberg mengatakan hasil itu semestinya dijadikan sebuah peringatan dini bagi para kaum perempuan, tapi ia menekankan nitrogendioksida bukanlah penyebab kanker payudara.

Sumber : Media Indonesia
Foto : worldofstock.com

Jumat, 08 Oktober 2010

Payudara Sensitif dengan Polusi Kendaraan

Kanada, Perempuan yang tinggal di kota besar harus makin rajin mengecek payudaranya. Bukan apa-apa selain asap rokok yang bisa memicu kanker payudara, organ seksi perempuan ini juga sensitif terhadap polusi kendaraan.

Studi yang dilakukan peneliti dari McGill University dan University of Montreal menemukan kasus kanker payudara akan semakin meningkat di daerah tinggi polusi karena udaranya mengandung banyak gas nitrogen dioksida (NO2). Hal inilah yang membuat wanita dua kali lebih rentan kena kanker payudara.

"Kami menemukan hubungan antara kanker payudara pasca menopause dan paparan nitrogen dioksida, yang merupakan penanda untuk polusi yang terkait kanker payudara," jelas Dr Mark Goldberg dari Research Institute of the McGill University Health Centre di Kanada, seperti dilansir dari Dailymail, Jumat (8/10/2010).

Menurut Goldberg, risiko kanker payudara akan meningkat sekitar 25 persen dengan setiap kenaikan lima bagian NO2 per miliar.

"Dengan kata lain wanita yang tinggal di daerah tinggi polusi tinggi hampir dua kali lebih mungkin mengembangkan kanker payudara daripada daerah dengan tingkat polusi rendah," jelas Goldberg lebih lanjut.

Goldberg menjelaskan, gas NO2 bukan hanya polusi yang dihasilkan oleh gas buangan dari mobil atau truk, tetapi juga ada gas-gas lain, serta partikel dan senyawa yang kaitkan dengan lalu lintas. Beberapa dari senyawa ini bisa bersifat karsinogen.

"NO2 hanya penanda, bukan agen karsonogenik yang sebenarnya," tungkas Goldberg. Hasil studi Goldberg ini telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives.

Meningkatkan daya tahan tubuh adalah faktor utama yang bisa menangkalnya. Membiasakan makan sehat, tidur teratur dan olahraga bisa membuat daya tahan tubuh terjaga.

Sumber : Detikhealth
Foto : (Foto: thinkstock)