Tampilkan postingan dengan label KANGKER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KANGKER. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 November 2010

Begini Cara Sel Kanker "Gerogoti" Tubuh

PENNSYLVANIA- Para Ilmuwan di Amerika Serikat menyusun sebuah teori baru mengenai bagaimana sel kanker dapat berkembang biak dan bertahan dalam jaringan tubuh.

Temuan ini dapat membantu para ahli kanker di dunia dalam menyusun diagnosa serta terapi baru untuk menyasar pasien-pasien berisiko tinggi.

Adalah tim peneliti dari Kimmel Cancer Center di  Universitas Thomas Jefferson Pennsylvania, yang berjasa membuat teori baru ini didasarkan pada hasil empat penelitian.

Teori ini juga dapat menjelaskan mengapa begitu banyak pasien kanker merasa tubuh mereka seperti  'digerogoti' secara perlahan. Padahal. ini sebelumnya tidak pernah dapat dimengerti oleh para ahli.

Empat teori baru ini menyodorkan bukti bahwa pertumbuhan sel tumor dan proses metastasis sebenarnya "dipicu" secara langsung atau didukung oleh sel-sel normal. Sel-sel normal dinamakan fibroblasts yang membuat sel kanker bertahan, dan mereka menghasilkan  stroma (jaringan penghubung) yang membungkus sel tumor.

Ketika sel kanker berkembang, jumlah sel stromal ini meningkat dan mereka seperti menggerogoti dirinya untuk menyediakan nutrien daur ulang kepada sel-sel tumor. Inilah yang mengakibatkan pasien kanker kerap kehilangan bobotnya secara signifikan.

Para ahli juga juga menemukan, tanpa nutrien daur-ulang yang disediakan oleh fibroblasts, sel-sel tumor menjadi lebih rapuh dan mudah mati.

Berdasarkan temuan penting ini, para ahli menilai obat-obat kanker yang sifatnya mengganggu hubungan parasit antara sel tumor dan fibroblasts, mungkin efektif dalam terapi.

"Kami kira rahasia bagaimana cara sel kanker berkembang telah terungkap. Ini  membalikkan 85 tahun dogma melampaui riset dan terapi kanker saat ini,"  ungkap Michael P. Lisanti, M.D., Ph.D., peneliti senior dan direktur Jefferson's Department of Stem Cell Biology & Regenerative Medicine.

Mereka menyebut penemuan ini sebagai  The Reverse Warburg Effect.  Penelitian ini juga dipublikasikan dalam journal Cell Cycle edisi September.

"Ini sungguh hebat. Banyak hal yang kita tahu soal kanker berlawanan sebab studi tentang kanker kebanyakan menggunakan sel tumor yang diisolasi. Sekarang kami menempatkan sel-sel kanker kembali dalam lingkungan stromal  Kami melihat bagaimana sel kanker secara kritis tergantung pada fibroblasts demi kelangsungan hidup mereka," ungkap Dr. Lisanti.
 
sumber : Kompas.com
foto : Ilustrasi

Kamis, 28 Oktober 2010

Pria Bertubuh Tinggi Lebih Rentan Kanker Testis


PRIA bertubuh tinggi ternyata berisiko lebih besar mengidap kanker testis, menurut hasil sebuah penelitian. Dikemukakan, setiap 2 inci penambahan tinggi tubuh, risiko terdiagnosis penyakit itu sebesar 13 persen.

Dr Michael Blaise Cook dari Institut Kanker Nasional di Maryland, Amerika Serikat, sekaligus ketua penelitian mengutarakan, "Hasil studi yang kami gelar menunjukkan adanya kaitan antara tinggi tubuh dan risiko kanker testis, tapi kami masih belum memahami mengapa penambahan tinggi tubuh memengaruhi risiko kanker testis."

Faktor lainnya, seperti keturunan dan genetis memang lebih menjadi penyebab utama penyakit ini. Risiko seseorang mengidap kanker testis juga ditentukan oleh catatan medisnya, etnik, dan usia. Penemuan ini telah dipublikasikan di British Journal of Cancer edisi Oktober 2010.

Sara Hiom, Direktur Pusat Informasi Kesehatan pada Penelitian Kanker di Inggris mengatakan, "Pria bertubuh tinggi tak semstinya merasa mawas diri karena hasil penelitian ini, karena 4 dari 100 kasus benjolan pada testis tidak semuanya merupakan kanker."

Di Inggris pun, jumlah penderita kanker testis hanya 210 orang sehingga faktor risiko itu terbilang tidak terlalu akurat.

Sumber : Media Indonesia .com - Penulis : Prita Daneswari
Foto : webmd.boots.com

Kopi dan Teh Turunkan Risiko Kanker Otak

SATU lagi berita gembira bagi Anda penggemar kopi dan teh. Telah terungkap manfaat lain dari dua minuman berkafein itu. Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa mengonsumsi kopi atau teh setiap hari ditengarai mampu menurunkan risiko terkena kanker otak.

Kesimpulan itu didasari analisis terhadap data yang terkait dengan pola minum sebanyak 410 ribu pria dan perempuan berusia antara 25 dan 70 tahun. Penelitian yang diadakan oleh kumpulan peneliti dari beberapa negara itu melibatkan partisipan dari Prancis, Belanda, Italia, Spanyol, Inggris, Yunani, Denmark, Norwegia, Swedia, dan Jerman.

Para partisipan direkrut pada 1991 dan 2000 serta dipantau selama 8,5 tahun. Selama itu, kehidupan mereka dipantau terutama pada pola minum, khususnya konsumsi kopi dan teh.

Selama masa penelitian, muncul sebanyak 343 kasus glioma dan 245 kasus meningioma. Itu merupakan dua jenis kanker yang memengaruhi jaringan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang.

Dari hasil analisis, terlihat bahwa kopi dan teh menyediakan perlindungan terhadap kanker otak, terutama dari glioma, jenis kanker yang menyerang sistem syaraf pusat yang berasal dari otak dan sumsum tulang belakang.

Dengan memantau pola minum para partisipan, tim peneliti menemukan bahwa meminum 100 ml kopi atau teh per harinya mampu menurunkan risiko munculnya glioma sebanyak 34 persen. Hasil studi ini telah dipublikasikan pada American Journal of Clinical Nutrition edisi Oktober 2010

Sumber : Media Indonesia .com - Penulis : Prita Daneswari
Foto : biancasteaandcoffee.com.au

Jumat, 15 Oktober 2010

Waspadai Kanker Kelenjar Getah Bening

JAKARTA, SABTU-Serangan kanker kelenjar getah bening (limfoma non-hodgkin-NHL) kian mengancam kesehatan masyarakat. Saat ini diperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia menderita kanker ini, dan setahun sekitar 300.000 orang meninggal dunia karena penyakit ini. Untuk itu, deteksi dini tumor ganas tersebut diperlukan untuk meningkatkan harapan hidup penderitanya sehingga kualitas hidup bisa dipertahankan.
"Saat ini target terapi telah digunakan di banyak negara untuk mengatasi kanker limfoma," kata Kepala Manajemen Medik PT Roche Indonesia dr Stephanus Kairupan, dalam jumpa pers, Sabtu (29/3), di Hotel Four Seasons, Jakarta.

Limfoma adalah sejenis kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Hal ini mengakibatkan sel abnormal menja di ganas. Seperti halnya limfoma normal, limfoma ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa, sum-sum tulang, darah maupun organ lain.
Terdapat dua macam kanker sistem limfatik yaitu penyakit hodgkin dan limfoma non hodgkin (NHL). NHL adalah sekelompok penyakit keganasan yang saling berkaitan dan mengenai sistem limfatik. Di Indonesia, mayoritas penderitanya terserang limfoma agresit (derajat keganasan tinggi) yang cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh, bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam enam bulan.

Angka harapan hidup rata-rata berkisar lima tahun dengan sekitar 30-40 persen sembuh. Pasien yang terdiagnosis dini dan langsung diobati lebih mungkin meraih remisi sempurna dan jarang mengalami kekambuhan. Karena itu, sangat penting mengenali gejala penyakit ini sejak awal di antaranya batuk-batuk dan sesak napas, benjolan di leher, ketiak dan daerah di antara kaki, gatal-gatal, demam tanpa sebab, berat badan turun drastis.
Penyebab NHL belum diketahui secara pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan atau genetik, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri, dan toksin lingkungan seperti herbisida, pengawet dan pewarna kimia. Pengobatan inti NHL saat ini meliputi kemoterapi, terapi antibodi monoklonal, radiasi, terapi biologik dan cangkok sumsum tulang. "Di banyak negara, pengobatan dilakukan dengan mengkombinasi beberapa jenis terapi," ujarnya.

Ahli hematologi dari Universitas Sydney Associate Professor Mark Hertzberg menyatakan, tingkat keberhasilan terapi kombinasi itu sangat tergantung dari kondisi pasien bersangkutan. S emakin cepat penderita berobat, maka peluang kesembuhan dan harapan hidupnya juga makin besar. Diakui, tidak semua penderita sukses menjalani pengobatan kombinasi ini, terutama pada penderita dengan komplikasi gangguan pada jantung.

Sumber : Kompas.com
Foto : indonesiaindonesia.com

Benjolan, Pertanda Infeksi atau Kanker?


JAKARTA - Pembengkakan kelenjar getah bening seringkali menimbulkan kecemasan dan mengundang tanda tanya. Apakah pembengkakan merupakan hal normal, penyakit yang berbahaya atau suatu gejala dari penyakit ganas alias kanker? Agar cemas tak berkelanjutan dan tertangani baik, kita perlu mengenali penyebab pembesaran kelenjar getah bening dan gambaran klinisnya.

Sejatinya, kelenjar getah bening merupakan salah satu organ vital yang menjadi bagian dari sistem pertahanan atau kekebalan tubuh. Tubuh memiliki kurang lebih 600 kelenjar getah bening. Hanya di beberapa tempat kelenjar bisa dikenali dengan mudah dan bisa diraba, yakni di leher, ketiak, lipatan paha, panggul, dan perut.
Fungsi kelenjar getah bening adalah sebagai tempat penyaringan antigen atau protein asing dari pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya. Ibaratnya, kelenjar ini adalah pos penjagaan yang akan menjaring dan mendeportasi pendatang yang mengancam kesehatan tubuh.

Nah, kita bisa mendeteksi adanya gangguan kesehatan saat kelenjar getah bening membengkak. Orang awam biasanya langsung khawatir dan menyangka pembengkakan sebagai kanker. "Padahal tidak semua pembengkakan berarti kanker, tapi bisa jadi karena penyebab lain," kata Asrul Harsal, Dokter Ahli Penyakit Dalam Rumah Sakit Dharmais Jakarta.
Pembengkakan kelenjar getah bening bisa disebabkan infeksi akut karena di bagian tubuh lain ada yang sakit. Misal, sakit gigi dan radang telinga, atau infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas. Ada juga penyebab lain, yakni infeksi kronis yang umumnya terjadi karena beberapa penyakit seperti tuberkulosis (TBC), infeksi paru-paru, dan penyakit seksual.

Sekadar informasi, infeksi akut biasanya dikaitkan dengan penyakit yang datang tiba-tiba dengan jangka waktu pendek. Sedangkan infeksi kronis terjadi dari gangguan penyakit yang telah berlangsung lama. "Infeksi menyebabkan pembengkakan dan kemerahan di tempat kelenjar getah bening berada, demam, dan nyeri," kata Asrul.
Pembengkakan kelenjar akibat jenis ini akan kempes seiring membaiknya, bagian tubuh yang terkena infeksi. Tapi bengkak kalau lebih dari satu sentimeter, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Karena kanker
Pembengkakan kelenjar juga bisa terjadi karena kanker akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih), yang menjadi ganas dan tumbuh di berbagai organ termasuk kelenjar getah bening. Kalau kelenjar ini terserang kanker, disebut limfoma.
Cuma, menurut Suhanto Kasmali, Dokter Umum Rumah Sakit Mediros, Jakarta Timur, pendeteksian kanker atau bukan tidak bisa dilakukan kasat mata. Penentuan kanker harus melalui tahapan pemeriksaan, mulai pengambilan gambar (rontgen) hingga pengambilan sampel kelenjar getah bening atau biopsi.
Erin Destrini, dokter dari Klinik Jakarta Medical Center (JMC) menambahkan, ada dua macam kanker sistem limfatik, yakni hodgkin dan limfoma non-hodgkin. "Sel hodgkin lebih berbahaya karena menyebar melalui sel darah," jelas Erin.

Gejala-gejala untuk mengenali pembengkakan kelenjar getah bening sebagai kanker antara lain, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam, hidung sering tersumbat, telinga berdengung, dan menurunnya nafsu makan berkepanjangan. Dus, setelah mengenali jenis dan gejalanya, penanganan pun bisa dilakukan dengan tepat.

Sumber : Kompas.com
Foto : Kompas.com

Hidup Modern Bikin Kanker Makin "Ganas"


LONDON Para ilmuwan berpendapat, kanker adalah penyakit yang muncul akibat kehidupan manusia yang semakin modern. Penyakit ini bukanlah kondisi yang muncul karena alam, tetapi timbul akibat faktor gaya hidup manusia yang semakin modern serta polusi yang dihasilkan industri.

Kesimpulan itu diungkapkan para egyptologist atau peneliti budaya Mesir di Universitas Manchester, Inggris. Kajian terhadap ratusan mumi asal Mesir dan Afrika Selatan menunjukkan, hanya ditemukan saja satu mumi yang terserang kanker. Sedangkan di zaman yang serba canggih saat ini, kanker merupakan penyebab utama satu dari tiga kasus kematian.

"Dalam masyarakat industri, kanker menempati peringkat kedua setelah penyakit kardiovaskuler sebagai penyebab kematian utama," ungkap Professor Rosalie David, pakar biomedis dari Universitas Manchester.
"Namun di zaman dahulu, penyakit ini sangat jarang. Tak ada faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, kanker adalah penyakit yang dibuat manusia, akibat polusi dan perubahan dari diet dan gaya hidup," tambah David.
Untuk melacak asal muasal kanker, Prof David dan rekannya Professor Michael Zimmerman, mencari jejak penyakit ini pada ratusan mumi  yang berusia hingga 3.000 lalu. Mereka juga meneliti fosil-fosil dan naskah-naskah kuno.

Melalui analisis jaringan terehidrasi di bawah mikroskop, mereka hanya menemukan lima kasus tumor yang kesemuanya terbilang jinak. Bukti dari fosil pun sangat jarang, sedangkan naskah-naskah kuno menyebut beberapa kasus tetapi kesemuanya diperdebatkan, seperti kasus pada binatang dan tulang-tulang Neanderthal.
Ilmuwan justru menemukan penyakit lain yang berkaitan dengan faktor penuaan seperti  penebalan dinding pembuluh darah dan artritis. Temuan ini, menurut para ahli, mengesampingkan argumen bahwa manusia purba usianya tidak cukup panjang sehingga tidak mengidap kanker.
Kajian terhadap tubuh mumi, baik dari keturunan raja atau rakyat jelata, menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup mereka bervariasi antara 25 hingga 50 tahun, tergantung latar belakangnya.
Bukti hadirnya kanker dalam naskah kuno Mesir juga dinilai peneliti lemah karena penyakit yang mirip kanker ini cenderung disebabkan oleh lepra atau bahkan varises vena. Satu-satunya mumi yang didiagnosis kanker adalah seorang sosok biasa yang hidup sekitar 200 Masehi.

Catatan di era modern menunjukkan, kasus penyakit kanker di dunia meningkat secara masif setelah era Revolusi Industri, khususnya kanker yang ditemukan pada anak-anak.

Sumber : Kompas.com
Foto : Mohamed Megahed/Egypt's Supreme Council of Antiquities

Selasa, 12 Oktober 2010

Lawan Kanker dengan Kekuatan Cinta

Jakarta, Saat didiagnosis kena penyakit kanker kebanyakan orang akan berpikir hidupnya tidak akan lama lagi, dan muncul perasaan sedih hingga putus asa. Tapi perasaan dicintai serta mencintai bisa sangat membantu mengoptimalkan pengobatan yang sedang dijalani.

Proses penyembuhan penyakit kanker memerlukan waktu yang tidak sebentar. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dari pasien. Karena itu dibutuhkan dukungan dan perhatian dari orang-orang disekitarnya untuk membangkitkan semangatnya.

"Penyakit kanker sebenarnya penyakit yang bisa disembuhkan, tapi untuk mencapai itu dibutuhkan proses serta daya tahan tubuh yang bagus dan optimal," ujar Dr Maria Astheria Witjaksono, MPALLC (FU) dari RS Kanker Dharmais dalam acara support group CISC (Cancer Information and Support Center) di Imam Bonjol, Jakarta, (14/2/2010).

Dr Maria menuturkan hal yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh dari seorang pasien kanker adalah adanya harapan, semangat untuk bertahan hidup, kasih sayang dari orang-orang disekitarnya serta perasaan dicintai dan mencintai.

"Perasaan cinta bisa membangkitkan semangat, harapan dan gairah dari diri si pasien untuk terus bertahan dan berobat sehingga pengobatan yang dilakukannya bisa optimal," ujar dokter bagian perawatan paliatif RS Kanker Dharmais.

Pengobatan kanker seperti kemoterapi membutuhkan kondisi pasien yang baik dan memiliki daya tahan tubuh yang tinggi. Karena selain membunuh sel-sel kanker di dalam tubuh, pengobatan ini juga menimbulkan efek samping bagi pasien itu sendiri. Jika pikiran dan hatinya tenang, maka pengobatan kemoterapi yang dijalaninya juga bisa lebih maksimal.

Pasien kanker diharapkan belajar untuk mencintai orang-orang dengan cara memaafkan semua kesalahan orang lain, dengan begitu hatinya akan menjadi lebih lega dan tenang. Sedangkan perasaan dicintai akan meningkatkan semangat pasien untuk bertahan dan berpikir bahwa hidupnya masih berarti untuk orang-orang terdekatnya.

"Kalau orang masih menyimpan dendam atau marah pada orang lain, maka hal ini bisa mempengaruhi hidupnya seperti nafsu makan berkurang, tidak bisa tidur yang dapat menurunkan daya tahan tubuhnya. Sehingga bisa mempengaruhi efek dari pengobatan yang sedang dijalaninya," ungkapnya.

Dr Maria menuturkan ada 5 tahapan yang dilalui oleh pasien kanker, yaitu:

Tahapan menolak.
Perasaan ini sering dialami oleh pasien kanker yang baru didiagnosis menderita salah satu jenis kanker.

Rasa marah.
Perasaan ini timbul pada diri pasien, kenapa harus saya yang sakit? Terkadang ada pasien yang merasa marah pada Tuhan.

Mencoba untuk menerima keadaan.
Pasien mulai mencoba bernegosiasi dengan kondisinya dan menerima keadaan yang ada.

Perasaan depresi.
Pasien merasa stres dan depresi dengan keadaan yang ada, seperti bagaimana nanti kehidupan keluarganya, siapa yang akan mengurus suami/istri dan anak-anaknya.

Tahapan menerima keadaan.
Pada tahap ini pasien sudah bisa menerima keadaannya dan pasrah dengan segala kondisi yang ada.

"Setelah menerima kondisi tubuhnya, maka tahap selanjutnya adalah menyesuaikan diri dengan keadaan penyakitnya. Karena seseorang tidak bisa terus menerus menyalahkan dirinya, tapi harus bangkit dan berjuang melawan penyakit tersebut," tambahnya.

Sumber : DetikHealth
Foto : Ilustrasi (Foto: sober)

Minggu, 10 Oktober 2010

Hati-Hati, Laptop Bisa Menyebabkan Kanker Kulit!

Jakarta - Aktivitas yang tidak mengenal waktu dan tempat membuat banyak orang membutuhkan laptop untuk bekerja. Jika lokasinya tidak memungkinkan, tak jarang orang memangku laptopnya ketika bekerja.

Kebiasaan ini ternyata membahayakan kulit karena bisa menyebabkan 'sindrom kulit terbakar'. Menurut laporan medis, seperti dikutip dari physorg, gejala 'sindrom kulit terbakar' adalah bintik-bintik yang tidak biasa yang disebabkan paparan panas dalam waktu yang lama.

Salah satu kasus yang baru terjadi baru-baru ini terjadi pada bocah 12 tahun. Anak laki-laki itu mengalami perubahan warna kulit di paha kirinya setelah bermain game komputer beberapa jam setiap hari selama beberapa bulan.

Akibat yang sama juga dialami oleh mahasiswi hukum di Virginia, Amerika Serikat. Hal ini sampai-sampai membingungkan dr.Kimberley Salkey, dokter yang merawat mahasiswi ini hingga ia mengetahui bahwa sang mahasiswi menghabiskan enam jam sehari bekerja menggunakan laptop di pahanya.

Kondisi seperti ini juga bisa terjadi jika memangku sesuatu yang panas namun tidak cukup panas untuk membakar kulit. Secara umum hal ini bisa menyebabkan kulit menjadi gelap secara permanen. Bahkan menurut Salkey, asisten profesor dermatolog di Eastern Virginia Medical School, Amerika Serikat, mengatakan bahwa jika dilihat melalui mikroskop, 'sindrom kulit terbakar' menyerupai kulit terbakar karena sinar matahari dalam jangka panjang.

Dalam beberapa kasus yang jarang, 'sindrom kulit terbakar' bisa menyebabkan kanker kulit, menurut peneliti dari University Hospital Basel, Swiss, Dr. Andreas Arnold dan Peter Itin. Mereka menyarankan untuk meletakkan perantara jika harus memangku laptop.

Bukan Anda saja yang harus mewaspadai sindrom ini. Meskipun paha pria jarang dipamerkan, namun bagi pria 'sindrom kulit terbakar' bisa mengurangi produksi sperma. Oleh karena itu, jangan lupa untuk memperingatkan pasangan Anda.

Sumber : Detikcom
Foto : Thinkstock